Jadi Penyebab Utama Stroke, Pengidap Hipertensi Disarankan Lakukan Ini

BOGOR – Penyakit stroke menjadi momok menakutkan bagi masyarakat terutama para penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi. Saat ini, Indonesia menjadi negara dengan pengidap stroke tertinggi di dunia.

Stroke terjadi akibat pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragrik).

Dokter Spesialis Saraf, Mayapada Hospital Bogor BMC, dr Edison SpS menuturkan, hipertensi memang menjadi faktor utama penyebab penyakit stroke. Disusul penyakit gula di posisi kedua. Tidak terkontrolnya tekanan darah dan gula darah seseorang membuatnya terserang penyakit ini.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, sering disebut sebagai “the silent killer” karena sering tanpa keluhan. Hipertensi juga menjadi kontributor tunggal utama untuk penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke di Indonesia.

“Seseorang didiagnosis hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan hasil tekanan sistol (angka yang pertama) ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan diastol (angka yang kedua) ≥ 90 mmHg pada lebih dari 1(satu) kali kunjungan.
Setiap peningkatan darah 20/10 mm Hg akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner 2 kali lebih tinggi,” paparnya.

Kebiasaan makan makanan yang telalu banyak mengandung garam, goreng-gorengan, dan kebiasaan merokok dinilai Edison menjadi faktor pencetusnya.

“Hipertensi kalau sudah berkomplikasi ke otak menyebabkan stroke. Tubuh penderita akan lumpuh, bicaranya menjadi cadel, dan terjadinya gangguan emosi,” terang Edison.

Selain itu hipertensi juga dapat berkomplikasi pada organ mata sehingga menyebabkan kebutaan. Serta organ ginjal yang membuat penderitanya mengalami penyakit gagal ginjal.

Oleh sebab itu dirinya menyarankan para pengidap hipertensi untuk melakukan pemeriksaan (skrining) secara rutin melalui medical check up. Dengan demikian tekanan darahnya dapat terkontrol dengan baik sehingga potensi terserang stroke dapat ditangani sejak dini.

“Pemeriksaan ke dokter minimal sekali dalam satu bulan dan melakukan medical check up sekali dalam 6 bulan. Ini penting untuk dilakukan agar mencegah komplikasi. Keberhasilan mengontrol tekanan darah mencapai target terbukti menurunkan kejadian stroke sebesar 30-40 persen dan kejadian penyakit jantung koroner sebesar 20 persen,” tuturnya.

Lewat pemeriksaan dan konsultasi rutin pasien hipertensi akan dibekali obat untuk mengontrol tekanan darah yang sesuai dengan kondisinya. Sebab menurut Edison, dalam kasus hipertensi obat yang digunakan belum tentu cocok dengan kasus hipertensi lain.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.