Institute Cianjur Meminta Pembongkaran SDN Ibu Jenab 1 Dibatalkan,Jelasnya

CIANJUR – Sejumlah putra daerah Cianjur tergabung dalam Cianjur Institute, Himpunan Mahasiswa Tjiandjur 1962 (Himat) dan Cianjurku Nu Ngarti audensi dengan Wakil Bupati Cianjur, H Herman Suherman mengenai permasalahan SDN Ibu Jenab I, Rabu (31/1/2018).

Mereka menolak keras gedung meninggalan sejarah (cagar budaya) SDN Ibu Jenab I akan dijadikan lahan parkir.

Bacaan Lainnya

Direktur Cianjur Institute, Ridwan Mubarak mengatakan, hasil audensi lebih banyak tidak mengetahui subtansi. Tapi beliau berjanji akan menyampaikan lebih rinci secara detail apa yang menjadi tungtutan masa, masa bupati dan wakil tidak mengetahui pembongkaran di sekolah tersebut.

“Tungtutan kami jelas buka kembali Jalan Siti Jenab, dan retribusi parkir. Perbup menyalahi aturan, karena Perbup No 44 Tahun 2017 Tentang Perubahan Retribusi, bertentangan dengan No 28 Tahun 2009,” kata dia.

Pihaknya menyebutkan, intinya kembalikan fungsi awal gedung SDN Ibu Jenab I sebagai lembaga pendidikan bukan sebagai lahan parkir, dimana sebagai ikrar wakaf dalam sighat kepada mauqufalaih atau nadzir.

Lalu kembalikan para peserta didik untuk melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ke tempat semula.

Sementara, Wakil Bupati Cianjur, H Herman Suherman menyampaikan, aspirasi dan tungtutan mereka akan ditampung dan dikaji ulang kembali. Jelasnya akan ditampung untuk disampaikan ke orang nomor satu di Cianjur, dan nanti akan dikaji ulang di bagian hukum Pemkab Cianjur.

“Tentunya tungtutan disampaikan akan ditampung dulu dan nanti akan dibahas, untuk mencari jalan solusi dan langkah terbaiknya bagaimana,” pungkasnya.

Sementara itu, keluarga besar turunan Dalem Cikundul, dan Keluarga besar turunan Ny Rd Siti Djenab mengadakan silaturahmi warga Cianjur, di Bumi Ageung Jalan Raya Moch Ali No.64 Cianjur, (31/01/2018).

Kegitan tersebut digelar guna membahas tindak lanjut alih fungsi lahan satuan Pendidikan SDN Ibu Jenab 1 yang tak lama lagi akan dijadikan lahan kawasan parkir oleh Pemkab Cianjur.

Pada kegiatan itu selain dari keturunan kelurga besar Dalem Cikundul, dan Kelurga besar Ny Rd Siti Djenab turut Budayawan Provinsi Jawa Barat, Budayawan Kabupaten Cianjur, Ulama, Akademisi, Perwakilan Kapolres Cianjur, perwakilan Dandim dan Konsultan Budayawan pemkab Cianjur.

Namun pada musyawarah tersebut tak membuahkan hasil kesepakatan antara Keluarga besar keturunan dengan Pemkab Cianjur. Pasalnya, Bupati Cianjur tidak hadir memenuhi undangan.

Prof Nina Herlina Lubis yang turut hadir pada kesempatan itu mengatakan, ketokohan Siti Jenab sebagai pelopor pendidikan kaum perempuan di Cianjur levelnya sudah nasional.

“Tapi sayang belum didaftarkan cagar budaya, maka saya atas data dan beberapa bukti dari keluarga mengajukan ke tim cagar budaya Jawa Barat dalam hal ini Lutfi Yondri, saat ini sedang dalam proses pendaftaran,” ujarnya.

Nina mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali mengunjungi lokasi untuk memeriksa data dan menelusuri.

“Kalau fisik memang beberapa kali mengalami perubahan. Tapi keterangan ruang dan dimensi banyak dikuatkan oleh beberapa keterangan bahwa di lokasi tersebut Ibu Siti Jenab mengajar menjadi guru bagi para perempuan di Cianjur,” katanaya.

Tim ahli cagar budaya Jawa Barat Lutfi Yondri mengatakan, sudah menerima data pengusulan sekolah Ibu Jenab I untuk dijadikan cagar budaya.

“Kami dari tim ahli cagar budaya sudah mencermati terkait apa yang ramai dibicarakan di Cianjur. Kami apresiasi bagaiamana perhatian warga Cianjur terhadap sejarah masa lalu,” katanya.

Menurutnya, saat ini tim ahli cagar budaya mencoba menguraikan pengkajian dan pihaknya mempunyai 12 poin kajian yang akan ditelaah untuk SDN Ibu Jenab I.

“Dari 12 poin itu kami membagi lagi rencana kajian ada beberapa poin yang masih bisa dilacak,” katanya.

Menurutnya, dengan didaftarkannya lokasi SDN Ibu Jenab I menjadi cagar budaya dan sedang dalam proses maka sudah berlaku total undang-undang yang mengatur lokasi tersebut tak boleh diganggu dari kegiatan apapun.

“Selama proses pengkajian bangunan dilindungi sebagai cagar budaya, jangan sampai rusak dan hancur, pidana sudah berlaku sejak penetapan status pendaftaran sebagai cagar budaya,” katanya.

Selian itu pihaknya juga sedang mengkaji rumah Tirto sebagai rumah wartawan pertama yang dibangun 1904 dan lokasinya berada di Cianjur.

(radar cianjur/mat/dil)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *