Untuk melonggarkan tenggorokan, jamu temulawak yang manis dan segar bisa dinikmati hanya dengan satu keping. Sebelum kemudian menjajal sego megono yang dicampur sama tempe kemul. Tempe kemul ini persis tempe mendoan. Hanya penganan khas Wonosobo itulah yang boleh dijual di semua lapak di Kumandang. Kombinasi sego megono plus tempe kemul itu bisa dinikmati dengan hanya membayar tiga keping. Coba, nikmat apa lagi yang kau dustakan?
Dari Kota Wonosobo, untuk menjangkau Pasar Kumandang, jika tak membawa kendaraan pribadi, harus dua kali berganti kendaraan umum. Pertama dengan minibus yang disebut ’’angkot atas’’ oleh warga setempat. Dilanjutkan ojek selama sekitar 7 menit. Pasar Kumandang buka mulai pukul 07.00 sampai pukul 13.00. Sepanjang durasi itu, Umi, seorang penjual klepon, mengaku rata-rata bisa menjual 30 porsi. Dengan harga seporsi satu keping saja. Di lapaknya, perempuan 48 tahun itu juga menjual sate telur puyuh dan ati ampela. ’’Yang paling cepat habis, ya sate puyuh ini, Mas,’’ ujarnya.
Menurut Asngari, tak ada biaya sewa untuk lapak. Melainkan iuran. Besarnya 12,5 persen dari hasil penjualan mereka pada hari tersebut. Misalnya, hari ini pedagang A mengantongi pendapatan Rp 200 ribu, dia harus membayar iuran Rp 25 ribu kepada pengurus pasar. Iuran tersebut digunakan untuk kepentingan fasilitas para pedagang. Misalnya, perawatan lapak dan kebersihan area pasar. Setiap Jumat, para pedagang juga berkumpul di selasar dusun.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas berdagang sebelumnya. ’’Apa yang perlu diperbaiki, misalnya, kalau kursi yang rusak. Pada Minggu pagi ketika berdagang, kursi harus sudah benar,’’ ungkapnya.
Semua agar kenyamanan pembeli bisa tetap terjaga. Tapi, yang tetap tak bisa dijamin adalah lost in translation. Saat antre menunggu makanan di lapak soto kuali, Jawa Pos mendapati Ratih, seorang pembeli dari Jambi, yang mengalami momen-momen membingungkan seperti pembeli jamu tadi.
’’Bu, soto kualinya, ya,’’ kata Ratih.’’Sekedap nggih, Mbak,’’ jawab si ibu penjual.Untunglah, Ratih bisa memahami sedikit-sedikit apa yang dimaksud si ibu penjual. Kalau tidak, bisa-bisa dia malah ngamuk, ’’Ngapain saya beli soto saja disuruh sedekap…’’
(*/c5/ttg)




