Ada kandungan filosofis di balik kewajiban berbahasa Jawa dan menukar rupiah dengan batok kelapa di pasar tersebut. Yang pertama agar bahasa Jawa, bahasa keseharian warga di sana, tetap lestari. Untuk uang pengganti, tujuannya adalah memunculkan nuansa alam. ’’Kami di sini tidak hanya menjual barang. Tapi juga mengedukasi cinta terhadap alam,’’ tutur Asngari.
Karena itu pula, pasar seluas setengah hektare tersebut, sebagaimana juga tertulis di plang pintu masuk, nirplastik. Lapak berukuran sekitar 1 x 2 meter terbuat dari bambu, sedangkan kursi dan meja dari kayu. Besek menjadi pengganti piring. Untuk melapisi besek, para pedagang menggunakan daun pisang. Untuk menyajikan minuman, para pedagang memakai gelas kaca.
Jadi, ya jangan harap bisa membungkus es teh, misalnya. Kecuali kalau pembeli membawa wadah sendiri. Pasar yang terletak 17 kilometer dari pusat kota Wonosobo itu mulai buka pada Mei tahun lalu. Dilandasi semangat untuk memberikan penghasilan tambahan bagi warga setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani atau pekebun.
Tidak langsung seramai sekarang, tentu saja. Penjual dan pembeli hanya datang dari desa sekitar. Geliat Pasar Kumandang baru mulai terasa setelah dibuka resmi oleh Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo, tiga bulan setelah pasar berjalan. Eksposur dari pembukaan itu mengundang ketertarikan pada pasar dengan berbagai aturan langka tersebut.
Pembeli berdatangan dari berbagai penjuru, termasuk dari luar Wonosobo. Jumlah pedagang yang semua berasal dari Dusun Bongkotan bertambah. Hingga akhirnya mencapai 70 orang. Muaranya adalah pasar yang menyajikan keanekaragaman makanan dan minuman. Maknyus dan murah-murah pula.
Jawa Pos sempat menjajal mi ongklok. Cuma tiga keping alias Rp 4 ribu. Padahal, saat andok mi yang sama di Kota Wonosobo, dua hari kemudian, harganya hampir tiga kali lipat: Rp 10 ribu. Lebih mahal, tapi tak lebih enak. Di Kumandang, tekstur minya lebih kenyal. Bumbunya sangat nendang. Terutama aroma bawang putihnya. Cuma kalah dari segi banyaknya suwiran ayam.




