Kepala Seksi Media Center Haji Daerah Kerja Bandara Ahmad Basir mengatakan, saat kali pertama mendarat di Bandara Madinah, wajah rombongan CJH dari Desa Sembungan terlihat memerah. “Mungkin karena terbiasa di tempat dingin, lalu ketemu suhu yang panas,” katanya.
Basir mengaku beberapa kali mengunjungi Desa Sembungan. Jadi, dia tahu betul betapa dinginnya suhu di sana. Bahkan, air kran tak bisa mengalir karena beku. Beberapa warga akhirnya memotong kran tersebut untuk memudahkan air mengalir. “Airnya harus dipanaskan dulu biar mencair,” katanya.
Mayoritas warga Sembungan hidup dari bertani. Mereka menanam kentang, terong, cabai, bawang putih, dan kol. “Kalau harga kentang sedang bagus, biasanya pendapatan sekali panen sudah cukup untuk mendaftar haji,” terang Thohir.
Selain pertanian, pendapatan warga desa berpenduduk sekitar 1.400 orang itu berasal dari pariwisata. Sebab, tidak sedikit wisatawan yang mampir ke desa tersebut. Angka kunjungan bahkan bisa mencapai 3 ribu orang setiap pekan.
Kini 14 CJH asal Desa Sembungan itu bersiap menuju Makkah. Di sana mereka harus menghadapi cuaca yang lebih panas lagi. Saat wukuf di Arafah nanti, suhu diperkirakan mencapai 53 derajat Celsius. Namun, tekad untuk beribadah membuat mereka tetap bersemangat. Bagi mereka, lebih baik merasakan panasnya udara Arab Saudi ketimbang kelak tersiksa oleh panasnya api neraka.
(*/c10/ttg)





