Featured

Kisah Para CJH Asal Desa Tertinggi di Jawa Beradaptasi dengan Teriknya Madinah

×

Kisah Para CJH Asal Desa Tertinggi di Jawa Beradaptasi dengan Teriknya Madinah

Sebarkan artikel ini

Fatoni dan 13 rekannya kini tinggal di lantai 9 Hotel Diyar Al Madina. Bagi para CJH yang tergabung dalam rombongan embarkasi Solo (SOC) kloter 32 itu, tinggal di hotel berbintang juga butuh penyesuaian. Dalam arti, karena tinggal di desa yang hawanya selalu dingin, AC (air conditioner) jelas tak diperlukan. Mereka pun jadi tak terbiasa dengan pendingin ruangan tersebut.

Jadilah, meski mengeluhkan teriknya suhu Madinah, mereka jarang sekali menyalakan AC di dalam kamar. Saat ditemui Jawa Pos di kamar hotel, suasana di dalam kamar memang terasa gerah. Beberapa orang tampak tiduran di atas kasur dengan hanya mengenakan kaus singlet dan sarung. Mengapa tidak menghidupkan AC? “Dinginnya beda, di sini dinginnya empuk, bikin teman-teman masuk angin,” seloroh Ahmad Thohir, kerabat Fatoni, lantas tertawa.

Bank bjb Tandamata

Meski terkesan guyon, kekhawatiran masuk angin lantaran terkena angin AC hotel rupanya bukan candaan. Buktinya, beberapa rekan Thohir bahkan membawa bekal jamu tolak angin. “Ada juga yang bawa beras dari rumah,” lanjutnya.Meski demikian, Thohir justru merasa senang dengan hawa Madinah yang panas. “Kalau saya, pas pilek lalu kena panas, rasanya malah plong,” katanya, dilanjut tawa lagi.

Fatoni, Thohir, dan rekan-rekannya sebenarnya sudah tahu kalau mereka bakal berhadapan dengan teriknya suhu di Madinah. Namun, mereka tak pernah membayangkan akan sepanas sekarang. Karena itu, Fatoni selalu membawa botol semprotan air ke mana-mana. Setiap merasa panas, air itu dia semprotkan ke wajah.

“Panasnya itu terasa sekali ke wajah. Seperti menusuk tulang,” ujarnya.Ke-14 CJH itu juga kompak membawa pakaian yang tipis. Padahal, di tempat asalnya, mereka selalu mengenakan jaket dan celana tebal. “Orang sini saja pakai pet (topi, Red) saking panasnya, apalagi kami,” katanya.Beberapa hari tinggal di Madinah, tanda perubahan tubuh mulai terasa. Berbeda dengan Thohir yang tetap sehat, perbedaan cuaca ekstrem membuat hidung Fatoni meler. “Pilek,” katanya.

Untuk menunjukkan perbedaan cuaca yang ekstrem, Fatoni lantas mengeluarkan handphone dari dalam sakunya. Dia menunjukkan foto-foto ketika kampungnya diselimuti es. “Ini foto saya duduk di rerumputan yang dipenuhi bunga es. Kebayang kan dinginnya,” katanya.