Ini Inovasi Masyarakat Adat Ciptagelar Pulihkan Ekonomi di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
FOTO: ISTIMEWA INOVASI: Kondisi rumah adat di Kasepuhan Ciptagelar Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi.

Awal tahun 2020 masyarakat Indonesia dihadapkan pada permasalahan kesehatan. Yaitu Coronavirus-2019 yang kemudian disingkat menjadi Covid-19. Virus impor dari Wuhan, Tiongkok ini menghantam semua lini sektor kehidupan, seperti perekonomian. Namun, masyarakat ada Ciptagelar menjawab pandemi ini dengan inovasi agar ekonomi segera pulih.

AKTIVIS Penggerak Tani Nusantara (PETANUSA) Egi Subakti mengatakan, lamanya pandemi ini banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi masyarakat, termasuk masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Menurutnya, pandemi ini berdampak pada beberapa aspek di masyarakat adat salah satunya yaitu sektor peranian yang banyak di tekuni oleh warga kampung adat.

“Kondisi covid-19 yang berjalan hampir mau dua tahun ini, tentunya sangat berdampak sekali ke dalam berbagai sektor seperti wisata, pendidikan dan termasuk pertanian. Sebelumnya sudah kita ketahui bersama melalui media-media yang ada di masyarakat seperti tulis ataupun televisi bahwasanya banyak petani yang mengeluh dengan keadaan yang dimana petani banyak memprodeksi tetapi harga rendah,” ujar Egi.

Kondisi tersebut, sambung dia, tentunya sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat dan sistem kehidupannya menjadi terganggu. Petani berharap keadaan ini cepat berakhir dan harga menjadi normal kembali agar kehidupan maysrakat menjadi stabil.

“Penginnya kita sebagai petani apa yang kita tanam bisa kita panen, dan apa yang kita panen bisa kita jual dengan harga yang bagus dan diatas rata-rata,” ungkap Egi yang juga perwakilan dari petani masyarakat adat.

Di samping itu ada beberapa solusi yang bisa membantu adanya permaslahan rendahnya harga di pasaran. Mereka terbantu dengan adanya kebutuhan masyarakat untuk keperluan sehari-hari dan acara-acara besar di lingkungan kasepuhan.

“Terkait harga yang rendah di pasaran kurang lebihnya bisa dikendalikan oleh masyarakat adat sendiri seperti banyak acara-acara di kasepuhan dan masyarakat dan sedikit membantu dengan harga yang normal. Baru setelah itu jika hasil panen masih banyak maka sisanya di dijual ke pasar,” jelasnya.

Selain beberapa dampak dan solusi yang di dijelaskan di atas, lanjut Egi, masyarakat juga dalam memutus rantai penyebaran covid mendukung pemerintah dengan mentaati berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah seperi lockdown, social distancing, vaksinasi dan kebijakan lainnya.

“Bentuk dukungan kita terhadap pemerintah dalam mengatasi pandemi ini yaitu dengan mematuhi aturan yang berlaku seperti dengan memakai masker, memberlakuakan lockdown kepada masyarakat, mengikuti vaksinasi dan lain sebagainya,” paparnya.

Di sisi lain, kasepuhan dengan sistem kepemimpinan di bawah pimpinan adat menjalankan aturan pemerintah dengan maksimal, meskipun terdapat beberapa hambatan seperti adanya masyarakat yang pro dan kontra, pemahaman masyarakat yang tidak menyeluruh dan arus informasi yang mudah menggiring masyarakat terhadap isu-isu hoaks di masyarakat.

“Meskipun terjadi penurunan pada beberapa sektor di masyarakat, tidak berlaku pada hasil pertanian padi yang mereka lakukan selama satu tahun sekali,” ucapnya.

Banyak dari masyarakat yang justru mengalami penaikan penghasilan hasil panen padi. Tetapi meski terjadi peningkatan hasil panen padi bagi masyarakat Ciptagelar tidak diperjual belikan oleh masyarakat hasil yang didapatkan disimpan di lumbung pandi sebagai cadangan makanan masyarakat kedepan.

Dalam mengatasi berbagai permasalahan ekonomi di masyarakat, ia menegaskan para petani muda di kasepuhan Ciptgelar hari ini telah banyak merambak inovasi-inovasi baru seperti pembuatan pupuk organik.

“Pupuk itu akan dipakai oleh masyarakat untuk menanam padi agar tidak lagi membeli pupuk di pasar, perkebunan, dan dalam waktu dekat masyarakat sedang mensosialisasikan program perikanan yang memanfaatkan lahan sawah yang hanya dipakai pada musim bertani saja,” tandasnya. (cr1/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *