Berawal dari hobi menggambar, Gilang Muhammad Gifana akhirnya memproduksi berbagai macam karakter cokelat di rumahnya Jalan Cagak Cibaraja RT34/06 Desa Nagrak, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Meski terbilang cukup rumit, sang pemilik optimis produknya laris di pasaran.
DINNA AGUSTINA, Sukabumi
Produk rumahan ini dilabeli Coklat Sunda (Coksun) 5 Rasa oleh pemiliknya. Pemuda 23 tahun ini dibantu ibu dan adiknya membuat Coksun sejak empat tahun lalu.Awalnya Gilang bekerja sebagai baker tepatnya bagian dekorasi kue di salah satu toko roti. Namun tidak genap satu bulan, dirinya berhenti dan mulai menciptakan usaha sendiri di rumahnya.
Dibuatnya berbagai macam bentuk dan sembilan warna (mejikuhibiniu), dengan sedikit tambahan cokelat putih dan hitam.”Bentuknya ada yang emoji, Minion, Doraemon, ketupat, masjid dan ada juga cokelat bata lima rasa yaitu original, pedas kacang, selai dan keju,”urai Gilang saat ditemui Radar Sukabumi, Selasa (9/10).
Untuk ketupat, masjid dan bentuk lain hanya diproduksi terbatas di hari-hari besar dan sesuai pesanan saja.Karena bercita-cita ingin menaikkan pamor nama Sunda di bidang kuliner, Gilang membranding produknya dengan nama Coklat Sunda 5 Rasa.
“Kebanyakan cokelat itu namannya dalam bahasa Inggris dan karakter cepotnya sendiri berasal dari tanah Sunda, tidak hanya itu lima rasa yang ada di produk kami itu karena dunia marketing sangat meningkat,”ucapnya.Sebagai Owner Coksun 5 Rasa dirinya mengaku sangat suka menggambar.
“Hobi menggambar, makanya terus mencoba tapi pakai cokelat putih sama hitam, setelah itu liat video di YouTube ya seperti ini hasilnya,”paparnya.Adapun full cokelat lantaran dia bermain di teknik menggambar dan kerapian. Dalam satu hari, ia bisa memproduksi 45 kg cokelat dan sembilan warna untuk lima kg cokelat. Sedangkan untuk jenis karakter (emoji,red), dibutuhkan 1 kg cokelat untuk 300 pcs. Sedangkan untuk karakter Minion, menghabiskan 1 kg cokelat tergantung ukuran.
“Kami memakai cokelat batang, jika sedang ramai kami memproduksinya setiap hari. Kalau sepi bisa dua sampai tiga kali produksi dalam seminggu dengan waktu minimal empat jam dan maksimalnya satu hari satu malam,”terangnya.Bahan baku berupa cokelat, keju dan selai dibeli Gilang dari Pasar Cisaat, Kabupaten Sukabumi.
Untuk tahapan produksi, pertama bahan baku cokelat dipotong dan lelehkan. Setelah itu pilih cetakan yang akan dipakai sebelum dituangkan cokelat ke dalamnya.”Untuk karakter dilukis terlebih dahulu di cetakan, lalu tuangkan cokelat yang sudah dipanaskan ke dalamnya. Setelah itu masukkan ke lemari es selama 2-3 menit,”paparnya.
Jika semua itu sudah dilakukan, cokelat tersebut masuk ke tahap pengemasan memakai plastik wrap atau plastik perekat sebelum dimasukkan ke dalam toples.”Satu toples untuk jenis karakter di banderol Rp45 ribu,”ulasnya.
Saat ini, cokelatnya hanya diproduksi kalau ada pesananan saja. “Sebelumnya pernah setiap hari, karena dipasarkan ke warung dan ritel-ritel juga, tetapi sekarang tidak karena warung meminta 1000 pcs coklat sedangkan produksinya terbatas,”katanya yang menyebut Coksun dipasarkan paling jauh ke Majalengka dan Jakarta.
“Pemasaran di Sukabumi order minimal satu toples, untuk luar Sukabumi minimal tiga toples,”terangnya.Khusus reseller, per toples Rp40 ribu bisa dijual Rp45 ribu-Rp55 ribu per toples. Sedangkan coklat lima rasa Rp8 ribu, bisa dijual Rp10 ribu-Rp11 ribu.
Dalam menjalankan usaha ini, Gilang sering kali mengeluhkan mahalnya harga bahan baku cokelat. Setiap tahun naiknya satu sampai tiga kali lipat. Mulai dari Rp25 ribu, Rp30 ribu hingga Rp35 ribu dari harga normal.
“Omzet satu bulan bisa mencapai Rp3,5 juta sampai Rp4 juta, semoga usaha kami makin lancar karena rencananya akan membuka galery untuk cokelat dan bisa merekrut para pegawai lebih banyak lagi untuk bekerja di sini,”tandasnya.(*/t)



