Featured

Bhinneka Tunggal Ika Sumber Inspirasi

×

Bhinneka Tunggal Ika Sumber Inspirasi

Sebarkan artikel ini

Desainer perhiasan mungkin sudah banyak di Indonesia. Desainer perhiasan emas masih sangat jarang. Satu di antara yang jarang itu adalah Lydia Cahyono.

SEBUAH bangunan besar di kawasan Surabaya Utara terlihat lengang. Bagian depannya tertutup pagar tinggi yang rapat. Di salah satu sudutnya, Lydia dan tim jewelry design-nya terlihat cukup sibuk. Itulah kantor sekaligus pabrik UBS Gold, perusahaan emas tempat Lydia bekerja. Perempuan 37 tahun itu mondar-mandir dengan membawa maket desain perhiasan yang terbuat dari resin. ’’Ini merupakan desain 3D sebelum dibuat dengan emas asli,’’ katanya sambil menunjukkan mock-up berwarna oranye tersebut.

Bank bjb Tandamata

Sebagai gold jewelry designer, Lydia tidak bekerja sendiri. Dia punya satu tim yang bertugas merancangperhiasan emas sebanyak 15–20 model baru tiap hari. ’’Bukan desain lho ya, tapi sudah pasti bisa diproduksi.Makanya, nggak mungkin bisa kalau hanya satu orang yang bekerja,’’ ulas Lydia.

Tugas utama Lydia adalah mengawasi, menilai, serta merevisi desain yang diberikan timnya.Setelah desain berupa sketsa disetujui, baru perhiasan bisa diproduksi secara masal. Lydiasebetulnya tak pernah belajar desain secara khusus. Dia memiliki latar belakang akademik business marketing di Indiana University, AS.

Setelah sekitar lima tahun bekerja di UBS Gold sebagai tenaga marketing, Lydia dipindahtugaskan ke bagian jewelry design. Di sana, passion-nya semakin berkembang.’’Jewelry designer mungkin sudah banyak. Tapi, gold jewelry designer itu yang masih sedikit banget,’’ ujar perempuan berpotongan rambut layer tersebut.

Mendesain perhiasan emas punya tantangan sendiri. Ada teknik khusus. Sebab, nilai jual perhiasan emas terletak pada emas itu sendiri. Masyarakat sangat memperhitungkan berat tiap perhiasan emas yang dibelinya. Terlebih, di Indonesia emas menjadi salah satu bentuk investasi. ’’Ketika membeli perhiasan emas, orang Indonesia cenderung melihat beratnya, modelnya menjadi pertimbangan nomor dua,’’ kata Lydia.

Karena itu, Lydia dan timnya tak hanya harus bisa membuat desain yang cantik. Tapi, juga harus efisien dari segi cost produksi. Sebab, perhiasan dibuat secara masal di pabrik dengan harga penjualan yang tidak memberatkan pembeli.

Lydia mengakui, inspirasi bisa datang dari mana saja. Keragaman budaya Indonesia menjadi influence terbesar. ’’Bhinneka Tunggal Ika, itulah inspirasiku,’’ tegasnya.Alasannya, tiap daerah punya selera yang berbeda. Misalnya, orang Surabaya dan Jakarta yang lebih suka perhiasan dengan desain simpel dan modern. Berbeda dengan masyarakat di Makassar yang menyukai perhiasan emas dengan desain klasik dan meriah.

Bagaikan air, inspirasi itu harus terus mengalir setiap hari. Tidak boleh ada kata blank bagi Lydia. Apalagi, selain menyesuaikan selera pasar Indonesia, Lydia mesti paham tren perhiasan di luar negeri. Sebab, beberapa produknya dipasarkan ke luar negeri lewat wholesale. ’’Kalau nggak ada model baru, nggak bisa produksi. Padahal, ada pasar yangmenunggu,’’ ujar Lydia.

Lydia tak pernah melupakan tanggung jawab utamanya sebagai seorang istri dan ibu dua anak. Tiap hari Lydia menyempatkan diri mengantarkan buah hatinya, Jeremy Axel Yahya, 12, dan Josephine Axella Yahya, 9, ke sekolah. Biasanya, mereka berangkat sekitar pukul 07.00. Lydia berangkat ke kantor pukul 09.00.

Kebiasaan itu membuat Lydia punya bonding yang kuat dengan dua anaknya. ’’Itu kan kesempatan buat omong-omongan. Sarapan bareng juga sebelum berangkat,” ceritanya. Tapi, anak-anak dijemput sopir saat pulang sekolah karena dia masih bekerja.

Sepulang kerja, Lydia memanfaatkan waktu secara maksimal untuk berinteraksi dengan anaknya. Entah me-review pelajaran sekolah mereka, makan malam, atau nonton film bareng. Kalau sedang longgar, Jeremy dan Josephine main ke kantor Lydia. ’’Ikut packaging ataunimbang-nimbang perhiasan. Apalagi yang bontot itu, dia suka sekali perhiasan,’’ imbuhnya, lantas tersenyum.

 

(adn/c7/nda)