Kepada Radar Sukabumi, Direktur Komersial dan UMKM Bank bjb Nancy Adistyasari mengatakan, Bank bjb senantiasa menjadi mitra strategi dalam mendukung berbagai program yang dijalankan Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.
“Bank bjb akan selalu hadir mendukung penuh program Petani Milenial yang merupakan program unggulan Pemda Provinsi Jabar,” tegasnya.
Disampaikan Nancy, sebagai lembaga keuangan serta sebagai bank yang lahir dari Jawa Barat, Bank bjb memiliki peran dalam meningkatkan literasi dan inklusi perbankan bagi para peserta program petani milenial melalui produk dan layanan Bank bjb.
Diantaranya, melalui program PESAT (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Terpadu) yaitu program peningkatan kapasitas usaha melalui pelatihan dalam pengelolaan usaha. Kaitannya dengan program Petani Milenial melalui kerjasama dengan Dinas terkait Bank bjb memberikan bagaimana cara mengembangkan wirausaha terutama dalam sektor pertanian.
Selanjutnya, dari sisi dukungan penyaluran kredit, Bank bjb menyediakan kredit bagi petani milenial yang membutuhkan dan layak mendapatkan kredit melalui konsep Pola Kemitraan bekerjasama dengan entitas-entitas (offtaker) yang mempunyai akses pasar untuk menyerap hasil budidaya para petani serta mempunyai agronomis dalam meningkatkan kemampuan petani dalam teknologi budidaya.
“Sehingga kerjasama antara bank, offtaker dan mitra offtaker yaitu petani dapat menciptakan sebuah ekosistem budidaya hulu sampai hilir. Khusus untuk sektor pertanian skema pembiayaan pun disesuaikan dengan siklus panen masing-masing komoditas,” ucap Nancy.
Dukungan selanjutnya, dalam hal kemudahan bertransaksi, Petani milenial tidak hanya melakukan budidaya saja namun juga bagaimana mereka menjual produknya ke pasar, untuk itu bank bjb hadir dengan layanan penunjang transaksi bagi para petani milenial seperti penyediaan layanan pembayaran melalui QRIS, fasilitasi mobil banking dan layanan lainnya.
Adapun komoditas yang termasuk dalam Program Petani Milenial di antaranya tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi jalar, sorgum, kacang tanah, kedelai. Hortikultura seperti tanaman hias, perkebunan ( gula aren, kopi, cengkeh, tebu, tembakau, karet, lada, vanili, teh), kehutanan (lebah madu, jamur kayu), peternakan (burung puyuh, ayam, kelinci, sapi dan domba), dan perikanan seperti nila, lele, udang vaname.
Lebih lanjut Nancy menjelaskan, Bank bjb akan memberikan bantuan modal kepada Petani Milenial melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Besaran kredit ini tergantung RKU (Rencana Kerja Usaha) atau bisnis plan yang disampaikan oleh petani atau offtaker. Adapun syarat utama untuk mendapatkan KUR yaitu usia minimum 21 tahun atau 18 tahun tapi sudah menikah, tidak sedang menikmati kredit komersial, syarat lainnya yang ditetapkan oleh bank penyalur.
Untuk KUR dibagi menjadi beberapa jenis yaitu KUR Supermikro (plafon samai dengan Rp10 juta , KUR Mikro (plafon diatas Rp10 juta-Rp100 juta, KUR Kecil (plafon diatas Rp100 juta-Rp500 juta, KUR khusus/KUR Kluster ( plafon sampai dengan Rp500 juta.
Terdapat dukungan lain bagi petani milenial, yaitu Bank bjb menyediakan layanan perbankan dan perencanaan keuangan bagi para petani milenial, serta menyediakan ID Card yang berfungsi sebagai ATM bagi para petani milenial (ATM Co-Branding). bank bjb berperan sebagai koordinator pembiayaan melalui pemberian kredit dan memberikan pemberdayaan bagi para petani milenial.
Ditambahkan Nancy, para Petani Milenial pun dapat dapat mengikuti program bjb Siap, yang merupakan program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Bank bjb, dimana program ini menjadi salah satu persiapan bagi petani dalam mempersiapkan masa pensiunnya.
“Besaran iuran bisa ditentukan oleh petani millenial berdasarkan kemampuan nya,” ucap Nancy.
Dalam acara Inaugurasi ini, bjb Siap akan membantu mempersiapkan masa pensiun para petani milenial. Nancy mengajak masyarakat, termasuk Petani Milenial, mempersiapkan program pensiun sejak dini, apapun profesinya dan berapapun penghasilannya. Agar masa depan menjadi lebih sejahtera.
“Bank bjb siap untuk masa depanmu,” ucap Nancy.
Salah satu petani milenial, Aenul Yakin yang mengelola lahan sawah dan berusia 29 tahun, menjelaskan, dalam hal bertani tetap akan ada kendala, namun jika inginmenjadi petani yang sukses dan berhasil, maka diperlukan perjuangan panjang dan tak patah semangat. Karena, para petani akan diuji oleh persoalan seperti masalah hama, irigasi, pupuk, tenaga kerja, hingga permodalan.
“Kalau mau menjadi petani yang sukses itu harus berjuang, apapun masalahnya, ya kita harus hadapi. Juga selalu konsisten dengan apa yang kita pilih,” ucap Aenul
Petani milenial lain, Indra Prasetya Nugraha, yang mengelola peternakan sapi, juga merasakan pahit getir, seperti terjadi masalah penyakit kuku mulut, apalagi usahanya juga sempat terganggu ketika terjadi bencana alam. Namun, ia bersyukur, mendapat bantuan pendampingan bank bjb sehingga usahanya terus berkembang.
Ia mengakui, untuk mengembangkan usaha, memerlukan dukungan permodalan. Syukurnya, setelahh ikut Petani Milenial, ia mendapat dukungan penuh dari Bank bjb dan pemerintah provinsi Jawa Barat
“Terimakasih Bank bjb dan Pemprov Jabar sudah mendampingi saya sampai dengan titik ini. Pemprov dan Bank bjb, bagai orang tua yang mendukung dan menemani kami dengan setia, hadir dalam setiap tarikan nafas, dalam perih, getir, tangis dan tawa, hingga kami mencapai cita cita,” ucap Indra.
Sementara Taufik Hidayat, yang mengembankan usaha Jamur, mengajak para petani milenial dan anak muda di desa, untuk terus semangat pantang menyerah meski dalam menjalankan usaha mengalami kendala. Ia bercerita, harus merugi hingga puluhan juta, dimana kumbungnya ambruk akibat musibah hujan dan sekitar 20 ribu baglog hancur. Namun, peristiwa itu tak mematahkan semangatnya.
Karena ia punya mimpi menjadi petani yang berhasil dan mendorong desa semakin maju.
“Sampai di titik ini alhamdulilah saya melewati banyak proses, cobaan dan kepahitan yang sangat panjang. Tapi tidak pernah terbersit pun untuk menyerah, karena saya dari awal punya mimpi dan harapan,” ujar Taufik. (*/sri)






