Menkeu: 2045 RI jadi Negara Maju

  • Whatsapp

JAKARTA – Indonesia masih berada pada jalur menjadi negara maju pada 2045. Ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19 tidak membuat harapan itu padam. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati optimistis visi tersebut akan tercapai.

Ani, sapaan Sri Mulyani, menyatakan bahwa upaya untuk mewujudkan negara maju tidaklah mudah. Tantangan terbesar yang akan dihadapi adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebisa mungkin, pertumbuhan ekonominya tidak stagnan atau masuk middle income trap.

“Covid-19 harus ditangani. Covid-19 harus kita kelola agar tidak menjadi alasan, excuse journey, kita menuju negara yang berpendapatan tinggi,” ujar Ani dalam Seminar Nasional Call for Paper tentang Transformasi Ekonomi, baru-baru ini.

Dia menyebutkan bahwa untuk menjadi negara maju, pendapatan per kapita Indonesia pada 2045 harus mencapai USD 23,199 (sekitar Rp326.735). Indonesia disebut-sebut punya bonus demografi. Sebab, 52 persen dari total populasinya yang tercatat 309 juta jiwa adalah kalangan usia produktif.

Ani menambahkan bahwa visi untuk menjadi negara maju itu bisa dicapai dengan beberapa langkah. Di antaranya, melanjutkan pembangunan infrastruktur dalam negeri. Menurut dia, dalam lima tahun terakhir, pembangunan infrastruktur Indonesia sangat gencar. Pemerintah berusaha keras mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain.

Tantangan lain adalah menciptakan angkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Baik secara karakter maupun skill. Hal itu merujuk pada bonus demografi juga.

Indonesia, lanjut Ani, akan terus meningkatkan kemampuan untuk keluar dari kelompok middle income country. “Pengalaman negara lain, tidak selalu mudah untuk meningkatkan level dari middle income country menjadi higher income country. Banyak negara bahkan stuck di posisi middle,” bebernya.

Di seluruh dunia, tidak sampai 12 negara yang betul-betul mampu bertransformasi menjadi higher income country. “Banyak yang tetap menjadi middle income country sampai beberapa dekade,” tegas Ani.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin berpesan agar upaya menjaga perekonomian Indonesia jangan sampai jatuh ke jurang krisis yang lebih dalam. Dia menegaskan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 sangat berbeda dengan krisis ekonomi yang lain.
Dalam krisis-krisis sebelumnya, dampak pada sektor riil terjadi secara tidak langsung. Atau, muncul akibat faktor likuiditas dari sektor keuangan.

“Tetapi, dalam krisis ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19 ini, justru sektor riil terdampak lebih dahulu,” kata Ma’ruf dalam Kongres VIII Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI), Rabu (18/11). (dee/wan/c12/hep)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *