Prospek Positif, Strategi Kalahkan Inflasi hingga Peminat Well Literate
Perkembangan suku bunga acuan global, tampaknya, mencapai puncak. Kondisi itu menjadi sentimen positif bagi pasar surat berharga negara (SBN) alias obligasi sepanjang 2024. Menawarkan proyeksi return mencapai 6,5 persen per tahun.
SURAT berharga negara (SBN), kata CEO Jooara Gembong Suwito, merupakan instrumen investasi yang sangat bergantung pada suku bunga bank sentral.
Dari sisi bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) menyatakan bahwa suku bunga acuan bakal higher for longer. Sejalan dengan target mereka dalam menurunkan inflasi di kisaran 2 persen.
Saat ini suku bunga The Fed (Federal funds rate) sebesar 5,25–5,5 persen. Level tersebut dipertahankan dalam dua pertemuan terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 25–26 September dan 7–8 November 2023.
”Kenapa ditahan? Ya karena memang dinamika dari sisi global dan ada perang di Timur Tengah. Ditambah lagi, kondisinya inflasi di Amerika Serikat saat ini terus turun,” terang Gembong, Jumat (1/12). Inflasi Oktober 2023 mencapai 3,2 persen.
Melihat dinamika tersebut, lanjut dia, tampaknya The Fed tidak agresif menaikkan suku bunga acuan tahun depan. Meski, inflasi AS saat ini masih jauh dari sasaran 2 persen. Kalau ada kenaikan Fed funds rate, sifatnya terbatas. Maksimal dua kali kenaikan dengan masing-masing 25 basis point (bps).
Sentimen di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 6 persen pada pertemuan Oktober lalu. Kenaikan itu dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Mengingat, saat itu posisi mata uang Garuda menyentuh Rp 15.800–Rp 15.900 per USD.
”Kalaupun nanti misal skenarionya The Fed menaikkan (suku bunga) sekali lagi, mungkin BI juga tidak ikut naik. Masih ada cukup ruang ditahan di 6 persen,” ungkap Gembong.
BI tentu akan melihat perkembangan kebijakan The Fed. Hanya, proyeksi sebagian besar analis, suku bunga acuan bakal dipertahankan di 6 persen. Bahkan cenderung turun. ”Tapi, BI nunggu dulu nih. Tidak akan menurunkan ketika The Fed tidak menurunkan,” jelasnya.
Dari sentimen tersebut, pria asal Surabaya itu menilai prospek SBN akan positif pada 2024. Sejalan dengan proyeksi The Fed yang kecil kemungkinan menaikkan suku bunga acuannya lagi. Return yang ditawarkan berada di kisaran tertinggi 6,3–6,5 persen. Kalaupun turun, return berkisar 5,75–5,8 persen.
Sukuk tabungan seri ST011 merupakan SBN ritel terakhir pada 2023. Masa penawaran berlangsung sejak 6 November hingga 6 Desember 2023. Ada dua tipe ST011, yakni ST011-T2 tenor 2 tahun dengan imbal hasil minimal 6,3 persen per tahun dan ST011-T4 tenor 4 tahun dengan imbal hasil minimal 6,5 persen per tahun. Kupon untuk keduanya bersifat floating with floor.
Menurut Gembong, permintaan masyarakat terhadap SBN terbilang tinggi. Peminatnya didominasi milenial dan Gen Z. Sejalan dengan kemudahan akses melalui platform investasi digital yang membuat dua kelompok tersebut well literate.
Selain itu, berinvestasi di SBN merupakan salah satu strategi untuk bisa mengalahkan inflasi. Mengingat, proyeksi return lebih dari 6 persen. Lebih tinggi ketimbang inflasi di Indonesia per November 2023 yang tercatat 2,86 persen year-on-year (YoY).
”Bagi investor yang konservatif, mintanya yang pasti-pasti aja. Yang penting dapat kupon cash flow rutin bulanan, SBN ok,” kata Gembong.
Investor agresif yang ingin memaksimalkan return SBN harus mengetahui momentum untuk melakukan jual beli di pasar sekunder. ”Tipikal seperti itu harus tahu kapan saatnya beli dan kapan saatnya jual. Beli cari harga diskon. Sebaliknya, ketika harga tinggi, jual,” tuturnya.
Gembong menekankan, keputusan untuk berinvestasi harus menyesuaikan tujuan finansial. Tidak sekadar ikut-ikutan. Harus memahami benar-benar produk dan risikonya.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyatakan, tren investasi SBN ritel menawarkan investasi yang terjangkau, tingkat bunga yang menarik, dan kemudahan membeli. Bisa melalui platform fintech dan internet banking. Selain itu, di beberapa jenis SBN, terdapat fasilitas early redemption atau penjualan sebelum jatuh tempo.
”Nah, keuntungan berinvestasi SBN ritel dengan tingkat bunga yang menarik menjadi pendapatan pasif untuk bantu pengelolaan keuangan. Juga, sebagai cara menyelamatkan aset saat terjadi kenaikan inflasi,” tandas lulusan University of Bradford tersebut. (han/c14/fal)





