EKONOMI

Mau Bisnis Saat Ramadan, Cermati Hal Ini

×

Mau Bisnis Saat Ramadan, Cermati Hal Ini

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Berbisnis tak selamanya selalu untung, pasti ada fase-fase bisnis mengalami penurunan keuntungan. Jika ingin memulai mengambil peluang bisnis pada saat Ramadan, Anda harus memperhatikan manajemen risiko dimana kemungkinan bisnis Anda mengalami kerugian.Mengutip dari website Bank Permata, perencana keuangan dari ZAP Finance membeberkan tips yang dapat dilirik agar keuntungan bisnis tetap dapat terjaga.

Sebuah bisnis umumnya akan mengalami siklus dari mulai introduction, growing, peak, hingga declining. Sehingga, wajar saja apabila terjadi kenaikan atau pun penurunan keuntungan. Penyebabnya bervariasi, namun salah satunya adalah kondisi perekonomian yang sedang lesu di Indonesia dan juga negara-negara lain. Di masa krisis seperti ini, selain harga bahan baku mungkin meningkat, daya beli konsumen pun berkurang.

Bank bjb Tandamata

Kepesertaan modal dalam sebuah bisnis dapat dikategorikan sebagai investasi Anda yang memiliki risiko terbesar. Karena dengan menanamkan dana di bisnis, maka ada risiko seluruh modal investasi habis. Berbeda dengan menanamkan dana di produk reksa dana saham, apabila turun pun secara statistik maksimal hanya pernah mencapai penurunan 75 persen dalam setahun.

“Dengan menjadikan modal bisnis adalah bagian dari investasi, maka pahami bahwa Anda menggunakan bisnis untuk mencapai sebuah tujuan finansial,” ujarnya.Sebagai pemilik bisnis, sebaiknya memiliki tata kelola keuangan yang baik. Segera pisahkan keungan rumah tangga dengan keuangan bisnis. Untuk pemilik bisnis, memiliki lebih dari dua rekening bank adalah sebuah keharusan.

“Pastikan bahwa aliran dana yang masuk ke rumah tangga adalah keuntungan bisnis, bukan sekedar penerimaan omzet,” tuturnya.Apabila Anda berniat mengambil kredit usaha, maka pelajari dengan detil besaran biaya bunga pinjaman dan ketentuannya. Agunan boleh saja digunakan, namun sebaiknya tidak menggunakan barang pribadi seperti rumah tinggal atau pun kendaraan sehari-hari. Jumlah pinjaman yang diambil sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan produksi untuk jangka waktu tertentu.

 

(mys/JPC)