EKONOMI

Kota Sukabumi Mengalami Inflasi Mei 0,64 Persen Terpengaruh Puasa

widi/radarsukabumi
LAKU KERAS: Di bulan Ramadan, toko busana muslim laris manis diserbu konsumen

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Mei 2019, Kota Sukabumi mengalami inflasi sebesar 0,64 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,97 pada April 2019 menjadi 135,84 pada Mei 2019.

Sementara laju inflasi tahun kalender (year to date) sampai dengan bulan Mei 2019, mengalami inflasi sebesar 1,33 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun (year on year) pada Mei 2019 terhadap bulan Mei 2018 sebesar 2,92 persen. Adapun penyebab terjadinya inflasi pada Mei 2019 yang mencapai 0,64 persen itu, dipicu oleh adanya kenaikan harga beberapa komoditas yang berada pada seluruh (tujuh) kelompok pengeluaran.

“Di Mei kemarin ini Kota Sukabumi mengalami inflasi, sebab ada pergeseran waktu puasa. Sehingga dampak kenaikan harga dirasakan pada bulan Mei, sehingga terjadilah inflasi,” ujar Kasi Distribusi BPS Kota Sukabumi Sri Rachmawati kepada Radar Sukabumi, Jumat (14/6).

Ditambahkan Sri, faktor pendorong inflasi pada bulan lalu antara lain inflasi pada sandang yaitu sebesar 2,93 persen, dengan komoditas penyumbangnya Sub kelompok yang mengalami inflasi adalah sub kelompok sandang laki-laki sebesar 4,38 persen diikuti oleh sub kelompok sandang wanita sebesar 3,62 persen dan sub kelompok sandang anak-anak sebesar 2,88 persen. Sementara itu sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya tidak mengalami perubahan harga.

“Biasanya kalau untuk di puasa ini yang paling banyak diburu kebutuhan sandang seperti baju muslim, baju anak stelan, celana panjang jeans, kemeja, sepatu dan sandal dan biasanya harganya juga naik,” terangnya.

Sementara di kelompok kedua bahan makanan sebesar 0,89 persen, dengan komoditas penyumbangnya andil inflasi disumbangkan harga pada sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 4,60 persen, diikuti sub kelompok sayur-sayuran sebesar 3,48 persen dan sub kelompok buah-buahan sebesar 1,96 persen.

Kemudian, penyumbang inflasi berikutnya adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,83 persen, komoditas kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau yang memberikan andil inflasi di bulan Mei 2019 yaitu ayam goreng, biskuit, gado-gado,rokok kretek filter, donat, pepes, rokok kretek, air kemasan, rokok putih, gula pasir, teh, minuman ringan, minuman kesegaran dan kopi bubuk.

Sedangkan komoditas yang menyumbangkan andil deflasi adalah sirup. Selanjutnya kelompok kesehatan sebesar 0,54 persen, komoditas yang tergabung dalam kelompok kesehatan yang menyumbangkan andil inflasi yaitu shampoo, sabun wajah, bedak, sabun mandi cair, pembersih/penyegar, hand body lotion, kapas, pasta gigi, vitamin, pelembab, sabun mandi dan deodorant.

Sementara itu komoditas lain tidak mengalami perubahan harga.
Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,33 persen, komoditas pada kelompok ini yang memberikan andil inflasi adalah angkutan
antar kota dan tarip pulsa ponsel. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,05 persen, dengan komoditas penyumbang andil terbesar ada pada yaitu biaya keamanan, sabun detergen bubuk, semen, tissu, pembersih lantai, sabun cream detergen, pembasmi nyamuk cair, bahan bakar rumah tangga dan sabun cair/cuci piring.

Sementara, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,04 persen komoditas penyumbang andil terbesar ada pada yaitu antara lain sepatu olahraga pria, buku gambar dan pakaian olahraga pria.

Dikatakan Sri, selama satu tahun terakhir (Mei 2018-2019) Kota Sukabumi mengalami fluktuasi angka inflasi dimana laju inflasi tahun ke tahun “year on year“ Mei 2019 terhadap Mei 2018 sebesar 2,92 persen. Selama kurun waktu tersebut terjadi tiga kali deflasi, yaitu deflasi di bulan Agustus 2018 sebesar 0,10, deflasi di bulan September 2018 sebesar 0,30 persen dan deflasi di bulan Februari 2019 sebesar 0,14 persen. Sementara sembilan bulan lainnya mengalami inflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi pada bulan Mei 2019, yaitu sebesar 0,64 persen, dan inflasi terendah terjadi pada bulan Maret 2019, yaitu sebesar 0,04 persen, karena bertepatan dengan bulan puasa,” jelasnya.

Sementara itu, dari tujuh kota pantauan IHK di Jawa Barat Mei 2019, semua kota mengalami inflasi. Kota Bekasi mengalami inflasi tertinggi yakni sebesar 1,05 persen. Kota Depok mengalami inflasi sebesar 0,89 persen, Kota Bandung sebesar 0,84 persen, Kota Tasikmalaya sebesar 0,70 persen, Kota Sukabumi sebesar 0,64 persen, Kota Bogor sebesar 0,58 persen dan Kota Cirebon sebesar 0,37 persen.

(wdy/rs)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button