Jangan Lakukan Panic Trading

panic trading
HARUS BY DATA: Seorang investor memantau pergerakan IHSG melalui gawai. Jangan melakukan transaksi perdagangan dengan membeli atau menjual karena didasari rasa panik atau overraksi terhadap kondisi pasar. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JAKARTA – Lepas momen Lebaran, tren perdagangan saham masih menunjukkan pergerakan yang landai dan cenderung melemah. Pada akhir pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di level 7.086,65 atau turun 96,18 poin. Dalam kondisi itu, investor jangan melakukan panic trading.

Menghadapi kondisi pasar seperti saat ini, Senior Advisor and Independent Commissioner at Pinnacle Investment Indonesia John Rachmat memberikan saran agar para investor tidak melakukan panic trading. Atau transaksi perdagangan dengan membeli-menjual karena didasari rasa panik atau overreaksi terhadap kondisi pasar.

”Memang tidak bisa dihindari, pada momen-momen tertentu kita dikuasai rasa panik. Misalnya, pada saat pasar turun. Research menunjukkan bahwa keputusan yang kita ambil saat kita panik itu justru merugikan,” ujar John secara virtual pekan lalu.

Menurut dia, dalam dunia investasi memang tidak ada yang 100 persen pasti. Namun, lanjut dia, investor dapat mengukur probabilitasnya. Ada beberapa strategi trading yang menurut John relatif lebih aman. Salah satunya adalah menggunakan robot trader. John menggarisbawahi bahwa praktik itu di luar Indonesia menjadi salah satu metode yang cukup proper dan respectable.

”Memang sangat disayangkan di Indonesia robot advisor banyak dipergunakan oleh scam, jadi harus berhati-hati. Sudah banyak korbannya,” tambahnya.

Di luar negeri, lanjut John, robot trader menjadi cara yang banyak digunakan investor karena memiliki keuntungan tersendiri. Di antaranya, tidak mengharuskan investor punya expertise di bidang trading atau investing.

”Dan, tentu kita tidak perlu pakai emosi karena semua aksi dilakukan by data. Tidak ada panic buying,” bebernya.
Atau, menggunakan strategi kedua, yaitu trade sizing. Menurut dia, penting dicermati bahwa trading berbeda dengan gambling.

”Banyak orang mengatakan trading saham itu hampir sama seperti main di kasino. Itu kurang tepat karena tidak ada satu pun game di kasino yang probabilitas keuntungannya ada di pihak customer,” tegasnya.

Berbeda dengan saham, menurut John, investor masih bisa memilah dan mempelajari pattern untuk mendapatkan probabilitas yang menguntungkan untuk profil investasinya. Dalam hal ini, dia menegaskan strateginya adalah membagi porsi atau size investasi di saham itu sendiri.

Bicara soal market saham, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 106 perusahaan berencana melakukan menggalang dana (fundraising) di pasar modal. Penggalangan dana dilakukan melalui penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), rights issue, dan obligasi senilai total Rp 84 triliun.

”Hingga 6 Juni 2022 terdapat 43 perusahaan yang telah masuk dalam pipeline pencatatan saham (IPO) BEI dengan total dana yang direncanakan Rp 14,1 triliun,’’ ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Nyoman Gede Yetna.

Secara terperinci, 43 perusahaan itu berasal dari berbagai sektor. Yaitu, 3 perusahaan dari sektor basic materials, 3 perusahaan sektor industrials, 4 perusahaan sektor transportation & logistic, 9 perusahaan sektor consumer non-cyclical, dan 8 perusahaan sektor consumer cyclical. Selain itu, 2 perusahaan technology, 2 perusahaan bidang kesehatan, 3 perusahaan sektor energi, 4 perusahaan sektor properties & real estate, dan 5 perusahaan sektor infrastruktur. (agf/c7/dio)

EMITEN DENGAN KAPITALISASI PASAR TERBESAR DI BEI PER 7 JUNI 2022

(6 TERTINGGI)

Nama | Kapitalisasi

BBCA | Rp 900 triliun

BBRI | Rp 660 triliun

GOTO | Rp 431 triliun

BMRI | Rp 383 triliun

ASII | Rp 291 triliun

Sumber: BEI

TLKM | Rp 421 triliun

Pos terkait

Tinggalkan Balasan