Wawancara Eksklusif Radar Bogor dengan Kedubes Rusia (bagian-1), Ancaman Tiga Menit Rudal Nato dan Neo-Nazi

Wawancara Eksklusif Radar Bogor dengan Kedutaan Besar Rusia

JAKARTA — Perang di Ukraina masih terus berkecamuk. Rusia dan Ukraina saling mengklaim paling mematikan dalam setiap serangan militernya. Apakah perang nuklir akan benar-benar terjadi? Bagaimana Sikap Rusia terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)? Lalu, kapan perang besar ini berakhir? Berikut wawancara wartawan senior Radar Bogor, Hazairin Sitepu (Bang HS) dengan Sekretaris III Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Denis Tetyushin (Mr Denis).

Bang HS: Mr Denis, saya ingin tahu terlebih dahulu apa pengertian sesungguhnya dari kata “Ura” yang saat ini begitu popular, termasuk di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Mr. Denis: Kata “Ura” ini sebenarnya semacam semangat yang digunakan di kalangan militer Rusia.

Bang HS: Kata Ura Ini dipopulerkan ketika perang di Ukraina ini?

Mr. Denis: Di sini saya harus jelaskan bahwa di Rusia kami tidak menganggap ini sebagai perang. Tetapi sebagai operasi militer khusus di Ukraina. Ini sangat penting untuk dimengerti. Karena kami tidak melawan rakyat Ukraina. Tujuan operasi ini hanya untuk demiliterisasi dan denazifikasi wilayah Ukraina.

Bang HS: Sekarang saya ingin tahu langsung dari Kedutaan Besar Rusia, apa saja yang menjadi dasar atau alasan paling penting Rusia harus menyerang Ukraina?

Mr. Denis: Salah satu alasan memaksa kami memulai operasi militer khusus ini adalah ancaman yang kami rasakan di Rusia, karena perluasan ke timur oleh aliansi NATO. Dan kemungkinan mereka memakai teritori Ukraina seperti pondasi untuk menyerang Rusia. Kalau kita melihat peta, berdasarkan perhitungan, kalau NATO membawa infrastruktur militer mereka ke Ukraina, maka rudal dari Ukraina bisa menyerang Rusia. Dan hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk menyerang Moskow. Ini ancaman nyata bagi Rusia. Sudah sejak awal kami bilang, jangan melakukan perluasan ke Timur!

Bang HS: Jadi alasan yang paling utama adalah ada usaha Ukraina menghadirkan NATO?

Mr. Denis: Itu salah satu alasannya. Alasan yang kedua, setelah kudeta di Kyiv (Kiev) pada tahun 2014, rakyat di dua wilayah yang waktu itu bagian dari Ukraina yaitu Donetsk dan Luhansk, tidak setuju dengan kebijakan pemerintah baru. Mereka tidak mau mengakui pemerintah tersebut. Karena itu mereka proklamasikan kemerdekaannya.

Pemerintahan yang baru itu menindas warga di Donesk dan Luhansk. Di sini kita harus mengerti bahwa banyak orang Rusia yang tinggal di dua wilayah tersebut. Mereka menggunakan bahasa Rusia. Budaya Rusia juga. Dan kejahatan pemerintahan baru itu melawan orang sipil. Pemerintah di sana melawan warga di sana. Itu yang kami tidak bisa terima. Dan kami ingin melakukan perlindungan pada mereka (warga).

Bang HS: Apa yang dilakukan Rusia ini juga untuk melindungi masyarakat Rusia yang ada di Ukraina?

Mr. Denis: Iya, betul. Situasi ini bagi warga Indonesia mungkin sedikit rumit. Coba saya jelaskan: kita tahu Rusia dan Ukraina merupakan dua negara yang berdekatan. Kami menganggap orang Ukraina di Rusia sebagai saudara. Karena ada banyak keluarga dan kerabat tinggal di Ukraina. Orang Ukraina pun ada yang punya kerabat di Rusia. Interkoneksi (hubungan masyarakat Rusia di Ukraina dan masyarakat Ukraina di Rusia). Koneksinya (sangat) dalam.

Hal yang kedua, orang Ukraina banyak sekali yang menggunakan bahasa Rusia. Ada 40 persen penduduk Ukraina memakai bahasa Rusia sebagai bahasa keseharian. Sisanya 60 persen bisa menggunakan bahasa Rusia dalam keseharian. Wilayah-wilayah Ukraina yang terletak di timur, khususnya Donesk dan Luhansk, dari persepsi sejarah, selalu dekat dengan Rusia. Karena pakai satu bahasa, satu budaya dan interkoneksi, khususnya antarkeluarga. Sangat erat.

Bang HS: Apakah serangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina yang sampai hari ini terus berlangsung itu sampai benar-benar melenyapkan negara itu (Ukraina)? Sehingga Ukraina dijadikan bagian dari Rusia?

Mr. Denis: Tidak sama sekali. Tujuan operasi militer khusus ini sejak awal sebenarnya sudah diumumkan oleh presiden kami: Presiden Vladimir Putin. Pertama: demiliterisasi. Dan kedua: denazifikasi. Karena di sana, di Ukraina, ada banyak sekali kelompok-kelompok yang menggunakan ideologi nazisme sebagai dasar ideologi mereka. Ideologi itu mirip dengan ideologi nazisme yang dipakai waktu perang dunia kedua. Jadi ada (ideologi) satu etnis (diagungkan) di atas etnis lain. Yang lain (dianggap) etnis yang dapat diremehkan, boleh dibunuh.

Bang HS: Jadi ada semacam kasta?

Mr. Denis: Iya

Bang HS: Jadi ada kasta yang rendah.

Mr. Denis: Jadi kasta terendah itu (dianggap) bukan manusia, mereka boleh dibunuh seperti pada perang dunia kedua Jerman membunuh Jews. Dan di Ukraina saat ini banyak kelompok neo-Nazi. Kenapa neo-Nazi? Karena bagi mereka, etnis Ukraina ada di atas dari etnis yang lain. Bagi mereka, orang Rusia itu bukan manusia.

Bang HS: Menganggap kastanya lebih tinggi?

Mr.Denis: Iya
Bang HS: Kalau kita lihat, mulai dari serangan pertama hingga saat ini, sudah menjelang dua minggu, militer Rusia sudah menduduki wilayah-wilayah penting di Ukraina. Kherson, Kharkiv, Mariupol, Kiev, apakah militer Rusia akan menduduki seluruh wilayah di Ukraina?

Mr. Denis: Rencana ini tidak pernah ada. Presiden Rusia sudah bilang beberapa kali. Kami tidak melawan rakyat Ukraina. Kami tidak mau membunuh warga sipil atau membom infrastruktur sipil. Kami hanya ingin melakukan demiliterisasi dan denazifikasi. Jadi kalau misalnya pasukan Ukraina siap menyerahkan diri, oke, kita selesai di sini.

Bang HS: Oh, jadi kalau pasukan militer Ukraina menyerah, maka perang ini selesai?
Mr. Denis: Iya selesai. Dan kita bisa duduk dan berdiskusi secara diplomatik. Kalau Kyiv (pemerintah pusat Ukraina) siap melakukan penyelesaian konflik ini secara diplomatik, itu yang kami inginkan. Maka kita bisa selesaikan konflik tersebut pakai jalur diplomatik. Kalau tidak, operasi akan dilanjutkan sampai dua tujuan tersebut (demiliterisasi dan denazifikasi) selesai. (bersambung)

Pos terkait