Alhasil, Indonesia terlempar dari persaingan enam tim terbaik. Hasil ini menjadi pelajaran bahwa teriakan “local pride” dari pelatih Indonesia saat juara Piala AFF U-16 2022 lalu berbuah karma.
Dengan local pride, gaya main, mental dan pilihan strategi masih bergaya lokal. Berbeda dengan Malaysia yang berani melakukan rotasi dan tak memaksakan pemain utama saat melawan tim lemah seperti Guam. Indonesia malah habis-habisan dan mengejar skor besar, padahal dalam sepak bola modern skor besar bukan jaminan lolos ke putaran final Piala Asia U-17 2023. Selamat tinggal Piala Asia U-17 2023 Bahrain. (dkk/jpnn)




