Jangan Paku Pohon di Sukabumi!

  • Whatsapp
Salah satu pohon mahoni yang berada di ruas Jalan Raya Panggeleseran - Cibatu, Kecamatan Cikembar yang dijadikan media pemasangan APK dan reklame dengan cara dipaku. FOTO : DENDI / RADAR SUKABUMI

SUKABUMI – Pohon kerap kali jadi bulan-bulanan dalam urusan memasang sarana promosi, kampanye dan iklan. Apalagi di musim Pilkada Kabupaten Sukabumi Tahun 2020 ini, semua pasangan calon bupati memanfaatkan pohon untuk dipasang alat peraga kampanye (APK). Kendati sebelumnya pun banyak pelaku usaha yang melakukan hal serupa untuk memasarkan produknya.

Kritik mengenai pohon yang selalu dijadikan media APK ini pernah disuarakan oleh warga Sukabumi bernama Robby lewat segmen Mimbar Publik Radar Sukabumi edisi Sabtu 21 November 2020.

Bacaan Lainnya

“Para pasolon Ppilkada Kabupaten Sukabumi, tolong jangan paku pohon. Kalau ingin memasang spanduk dan bener mending jangan di pohon cari tempat lain,” tulis Robby.

Senada dengan Robby, Ketua Umum Pemuda Peduli Lingkungan Sukabumi (PPLS) Taufikurohman mengemukakan hal yang sama. Sebagai aktivis lingkungan hidup, dia merasa geram dengan maraknya spanduk iklan, baliho, reklame khususnya alat peraga kampanye yang terpajang begitu saja dengan cara dipaku di pohon.

Kondisi ini terjadi di hampir semua pohon yang berada sepanjang pinggir ruas jalan raya, mulai dari jalan raya nasional, kabupaten hingga jalan milik desa.

“Masih banyak kita lihat pohon-pohon yang dijadikan media alat APK dan reklame dengan cara dipaku yang bertujuan untuk mempromosikan prodak maupun pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi pada Pilkada 2020,” kata Taufik kepada Radar Sukabumi, Minggu (22/11).

Kegeraman Taufik pun kian menjadi lantaran pada Hari Pohon Sedunia tanggal 21 November kemarin tak ada perayaan khusus. Taufik pun menyoroti aturan dalam pemasangan APK yang sudah diatur dalam Perda Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pajak Reklame.

“Selain itu, pemasangan APK maupun reklame itu juga sudah disediakan tempatnya,” ujarnya.

Untuk itu, PPLS menilai apabila ada orang yang telah melakukan pemasangan APK yang bukan pada tempatnya, sudah jelas telah melanggar peraturan Perda itu sendiri. Namun ironisnya pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi dinilai tidak sadar karena pemasangan APK yang dipaku di pohon itu, telah dibiarkan begitu saja.

“Jadi apabila ada satu yang melanggar, maka di sini yang berwenang adalah Satpol PP Kabupaten Sukabumi untuk membersihkan papan reklame dan APK. Namun ironisnya pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi dinilai acuh dan tidak beritindak seperti peraturan yang berlaku,” imbuhnya.

Sebab itu, PPLS mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang dalam hal ini Satpol PP untuk segera berindak dan memberikan saksi terhadap mereka yang telah sengaja memasang APK maupun reklame dengan cara dipaku dibatang pohon. Karena selain melanggar Perda, mereka juga telah melanggar Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Pada Undang-undang itu, dijelaskan pada Pasal 1 ayat (2) adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum,” bebernya.

Pihaknya berharap kepada pihak yang berwenang dan pemangku kebijakan, dapat serius menanggapi persoalan ini. Khususnya menertibkan AKP dan membenahi pohon yang sudah dirusak tersebut. Terlebih lagi, keberadaan pohon sudah memberikan manfaat banyak untuk keberlangsungan mahluk hidup. Salah satunya untuk penjagaan ekosistem.

“Kita harus sadar pentingnya pohon untuk keberlangsungan ekosistem, khususnya pada oksigennya. Jika APK dan reklame itu, dibenahi maka sudah jelas itu akan ada pemasukan pada PAD. Jadi pemangku kebijakan jangan takut dan harus bertindak tegas. Apalagi ini tentang pemasangan APK calon Bupati dan ini sudah melanggar serta Satpol PP harus bertindak,” timpalnya. (den/upi/rs)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *