Bank Pohon ‘Nabung’ 26.000 Pohon di Sukabumi

  • Whatsapp
Para aktivis yang tergabung di PPLS dalam program Bank Pohon saat menanam pohon.

SUKABUMI – Pemuda Peduli Lingkungan Sukabumi (PPLS) harus memutar otak agar program dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup dapat berjalan dengan baik dan efektif. Maka, tercetuslah nama Bank Pohon.

“Jadi kami menyediakan bibit-bibit pohon untuk ditanam di Sukabumi baik kota maupun kabupaten. Stok pohon ada di kami. Siapapun boleh minta ke kami, ini gratis,” kata Ketua PPLS Taufikurohman kepada Radar Sukabumi, Senin (23/11).

Bacaan Lainnya

Taufik menjelaskan bahwa Bank Pohon ini dicetus sekira empat tahun lalu, tepatnya 2016 lalu. Bibit yang disediakan dari cara petetan atau biji yang disemaikan lalu menjadi bibit pohon. Saat itu inisiatornya adalah KH Muhammad Fajar Laksana yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al Fath Sukabumi.

Bank Pohon digagas dan dilaksanakan dengan satu tujuan utama, yakni agar ruang terbuka hijau di Sukabumi tetap terjaga.

“Tahun 2017 kami terus di Bank Pohon. Kami nanam di lahan-lahan yang bisa ditanam dengan bekerjasama dengan aparat setempat, baik itu di pelataran ataupun kanan kiri sungai hingga di pinggir jalan desa,” ujar Taufik.

“Kalau bank itu kan konsepnya menabung uang. Nah Bank Pohon ini kita menabung pohon,” lanjutnya menegaskan.

Secara rinci, Taufik menyebutkan ada 26.000 pohon yang telah mereka tabung di Sukabumi. Di tahun pertama, sebanyak 15.000 bibit pohon dari jenis pohon keras dan pohon buah.

“Tahun pertama kami nanam 15.000 pohon mulai dari jenis pohon trembesi, akasia manium, ketapang, dan ketapan kecana. Kalau pohon buat kami tanam sukun di pinggir kampung, mangga, dan durian,” sebutnya.

Di tahun kedua, lanjut Taufik, pihaknya menanam sebanyak 10.000 pohon yang terdiri dari ketapang kencana, sirsak, durian, trembesi, dan sukun.

“Nah di tahun ketiga jumlahnya sedikit karena organisasi mulai pusing, kami cuma nanam seribu pohon saja. Jenisnya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” urai Taufik.

Di lain hal, Taufik tak pungkiri bahwa selama menjalankan program Bank Pohon kerap ada godaan dan cobaannya. Di antaranya masalah keuangan dan menolak kompromi dari pihak perusahaan.

“Alhamdulillah saya tidak dibantu dengan pihak manapun juga, baik itu pemerintah maupun CSR perusahaan. Bahkan kami jadi musuhnya pabrik karena yang namanya orang lingkungan itu tetap harus lempeng. Salah ya salah. Gak ada istilahnya bisa kompromi. Karena kami tidak dibiayai sama siapapun juga,” beber Taufik.

“Jadi penilaian kami di lingkungan itu tetap fight, salah ya salah,” tuntasnya. (izo)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *