Imbauan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi kepada Petani, Tunda Dulu Perluasan Tanaman Sawi

  • Whatsapp
BPP Kecamatan Kebonpedes,
Koordintator BPP Kecamatan Kebonpedes, Kusmana bersama petani saat meninjau tanaman sawi di wilayah Kampung Tegallega, Desa/Kecamatan Kebonpedes.

SUKABUMI – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Sudrajat melalui Koordintator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kebonpedes Kusmana kepada Radar Sukabumi mengatakan, untuk mengantisipasi kerugian akibat harga jual tanaman sawi sejumlah nol rupiah, maka pihaknya mengimbau kepada para petani untuk tidak memperluas areal tanamannya. Khususnya pada tanaman sayuran jenis sawi.

Hal ini merespons problem para petani di wilayah Desa/Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi yang terpaksa mencabut kembali atua membabad tanaman sawi yang memasuki masa panen raya sebagai dampak pelaksanaan PPKM Level.

Bacaan Lainnya

“Karena pada saat ini sedang terjadinya penurunan harga palawija, khususnya pada tanaman jenis sayuran sawi, tetapi penurunan harga sawi ini merupakan fenomena alam,” kata Kusmana kepada Radar Sukabumi pada Rabu (04/08).

Untuk itu, dirinya menghimbau kepada seluruh petani di wilayah Kecamatan Kebonpedes untuk menunda dulu rencana untuk memperluas tanaman sawi. Selain karena PPKM, juga saat ini tengah terjadi peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau sehingga dapat dipastikan harganya menurun.

“Terlebih lagi, pada masa PPKM Level 3 ini, aktivitas masyarakat dibatasi. Hal ini, dilakukan sebagai salah satu bentuk upaya dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya.

“Selain itu, kami juga menghimbau seandainya tanaman sawi ini belum dilakukan pembabadan atau dicabut oleh para petani. Maka salah satu solusinya itu bisa dijadikan benih untuk musim berikutnya,” tandasnya.

Sementara itu, seorang petani sawi asal Kampung Tegalega, RT 01/04, Desa/Kecamatan Kebonpedes, Ganda Lesmana (61) kepada Radar Sukabumi mengatakan, para petani sawi di Desa Kebonpedes ini, terpaksa membabad tanaman sawi yang hendak memasuki panen raya itu, karena mereka merasa prustasi. Lantaran, harga jual tanaman sawi tersebut, tidak sesuai dengan harapan.

“Mau tidak kesal bagaimana. Harganya nol rupiah alias tidak ada harganya. Bahkan, jika kami bersikeras pun untuk dijual ke pasaran, maka dapat dipastikan merugi. Iya, jangankan mendapatkan keuntungan, untuk mengembalikan modal saja susah,” jelas Ganda.

Untuk itu, setelah mengetahui harga jual tanawan sawi nol rupiah, maka para petani sawi di wilayah tersebut, langsung secara spontan membabad tanamannya. Padahal, sayuran jenis sawi itu tengah memasuki panen raya. “Iya, ada juga sebagian tanaman sawi yang tidak dibabad dan dibiarkan begitu saja. Sehingga pada tanaman sawi itu keluar bunga kuning,” imbuhnya.

Pihaknya menambahkan, sebelum ada penerapan PPKM atau pada kondisi normal, harga sayuran sawi di wilayah Kecamatan Kebonpedes, telah dihargai Rp4 ribu per kilogramnya. Namun, setelah diterapkannya masa PPKM darurat harganya menurun hingga Rp1.500 per kilogramnya. “Nah sekarang lebih parah lagi, setelah diperpanjang PPKM-nya menjadi PPKM Level 3, harganya nol rupiah atau tidak ada harganya,” pungkasnya. (Den/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *