Hiswana Migas Sukabumi Buka-bukaan Soal Permasalahan Distribusi Gas 3 Kilogram

gas Elpiji
Sejumlah petugas pertamina saat melakukan pengecekan ke salah satu pangkalan gas elpiji 3 kilogram.

SUKABUMI – Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sukabumi akhirnya buka-bukaan terkait kasus dugaan penyelewengan penyaluran gas elpiji 3 kilogram yang kini tengah ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Sukabumi.

Bersama PT Artha Jatra 45 sebagai agen penyalur gas elpiji bersubsidi, Hiswana Migas belum lama ini sudah dipanggil untuk dimintai keterangan.

Bacaan Lainnya

Bahkan rencananya, ada 32 agen penyjual lainnya yang juga akan diminta informasi seputar penyaluran gas subsidi tersebut.

Pemeriksaan pimpinan PT Artha Jatra 45 bersama Hiswana Migas ini, untuk mengetahui dugaan penyelewengan dalam penyalurannya, dari para agen ke pangkalan.

Pasalnya, gas elpiji 3 kilogram itu diduga dijual oleh para pangkalan di atas harga HET (Harga Eceran Tertinggi).

“Sebetulnya pihak kejaksaaan sudah ada komunikasi untuk gali informasi dengan Hiswana Migas. Ini untuk berdiskusi alur pendistribusian gas elpiji 3 kilogram bersubsidi seperti apa.

Pada saat itu, saya juga telah menyampaikan pada pihak kejaksaan, bagaimana alur pendistribusian tersebut,” ujar Ketua Hiswana Migas Sukabumi, Yudha Sukmagara kepada Radar Sukabumi.

Dijelaskan Yudha, apabila ada agen yang menjual di luar dari HET dan ada temuan itu, maka sanksinya sangat tegas yaitu pemutusan kontrak dengan Pertamina langsung.

“Jadi memang agen-agen ini apabila jual di atas HET kepada pangkalan, langsung Pertamina menindak tegas. Sanksiya pemutusan hubungan kemitraan usaha,” ucap Yudha.

Begitupun pangkalan, apabila menjual kepada eceran lebih tinggi dari HET, maka pihak agen berkewajiban memutuskan juga hubungan mitra pangkalannya.

“Jadi di lapangan itu, apabila ada pangkalan yang menjual ke warung dengan harga itu, tidak diperbolehkan,” bebernya.

Alurnya, sambung Yudha, Pertamina memberikan kuota gas elpiji 3 kilogram bersubsidi kepada agen atau perusahaan-perusahaan yang sudah ditunjuk.

Setelah itu, agen elpiji menunjuk pangkalan-pangkalan yang tersebar di Kabupaten Sukabumi.

“Setiap agen kan punya pangkalan binaan masing-masing. Nah agen tidak diperbolehkan menjual di atas harga HET yang sudah ditentukan kepada pangkalan dan pangkana juga sama tidak boleh menjual harga lebih dari harga eceran, kepada warung atau masyarakat secara langsung,” ungkap Yudha.

Apabila ditemukan agen yang menjual lebih tinggi kepada pangkalan, maka akan langsung dicabut oleh Pertamina izinnya.

Jadi runutannya pertamina ke agen, agen ke pangkalan, pangkalan ke orang-orang yang mempunyai hak mendapatkan gas elpiji.

“Sudah diatur sistemnya menggunakan lookbook dan itupun juga nantinya diperiksa baik oleh pertamina maupun juga oleh BPK,” tegas Yudha.

Yudha juga menegaskan, apabila memang ada pemanggilan untuk agen untuk membantu memberikan informasi kepada kejaksaan, harus datang. Sebab, memang perlu ada sebuah keterbukaan kepada kejaksaan.

“Perihal agen yang dipanggil dari Cicurug saya tidak tahu ya, itu ranahnya ada di pihak kejaksaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.