Hergun Dukung Rupiah Digital karena Tiga Faktor, Salah Satunya Uang Kripto

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan

“Sebagaimana Bank Indonesia, sejumlah bank sentral di dunia telah melakukan proyek-proyek uji coba CBDC agar implementasi CBDC tidak menimbulkan risiko yang signifikan terhadap kelancaran sistem pembayaran dan stabilitas sistem keuangan,” ujar Hergun.

Saat ini, terdapat dua negara yang telah meluncurkan CBDC secara penuh yaitu negara Bahama dan Nigeria. Pada Oktober 2020, negara kepulauan Bahama meluncurkan Sand Dollar sebagai alternatif uang kartal. Pada Oktober 2021, Bank Sentral Nigeria menerbitkan e-Naira.

Bacaan Lainnya

Beberapa negara lain seperti Tiongkok, Singapura, Jamaika dan Organisasi Negara-Negara Karibia Timur juga telah meluncurkan pilot project pemanfaatan CBDC. Terdapat pula negara-negara yang berada dalam tahapan pengembangan kajian untuk mempertimbangkan atau mempersiapkan penerapan CBDC di negaranya.

Politisi dari Dapil Jawa Barat IV (Kota dan Kabupaten Sukabumi) menambahkan, bila dikaji secara mendalam, setidaknya ada tiga manfaat rupiah digital.

Pertama, rupiah digital akan menciptakan efisiensi karena peredarannya melalui platform teknologi digital blockchain dan distributed ledger technology (DLT). Kedua, rupiah digital bakal menekan biaya transaksi di perbankan. Ketiga, rupiah digital akan menghemat dari sisi ritel karena biaya transaksi yang rendah.

“Namun, selain memiliki kegunaan, Rupiah Digital juga menghadapi tantangan untuk menjadi alat pembayaran yang sah,” tegas Hergun

Tantangan tersebut meliputi mendesain mata uang digital agar dapat diterbitkan dan diedarkan, mengintegrasikan antara infrastruktur sistem pembayaran dengan pasar keuangan, serta platform digital yang akan digunakan rupiah digital.

“Spesifikasi Rupiah Digital masih didalami di Bank Indonesia. Setidaknya ada dua opsi pendekatan (mekanisme distribusi) yakni one tier atau secara langsung atau two tier atau secara tidak langsung,” ujar Hergun

Dengan skema one-tier, rupiah digital bisa didistirbusikan langsung dari bank sentral kepada masyarakat atau perusahaan. Sementara dengan skema two-tier, maka rupiah digital akan didistribusikan terlebih dulu kepada perbankan, kemudian baru disalurkan kepada masyarakat.

“Skema kedua dipandang lebih tepat pasalnya mirip dengan mekanisme pendistribusian uang kartal dan uang logam saat ini,” tegas Hergun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan