Hari Ini di Sukabumi Mulai Pendaftaran MyPertamina, Petugas-Pembeli Masih Bingung

My-Pertamina

SUKABUMI – Rencana penerapan MyPertamina dalam pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite masih jadi bola panas. Baik masyarakat maupun petugas SPBU belum mendapatkan informasi jelas prihal rencana tersebut.

“Terus terang sampai saat ini saya masih bingung. Baik itu mekanisme pendaftaran untuk bisa menjadi penerima BBM jenis pertalite, maupun informasi lainnya,” keluh salah satu pemilik kendaraan roda empat, Sri Nuraidah kepada Radar Sukabumi, kemarin (30/6).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, seharusnya Pertamina terlebih dahulu melakukan sosialisasi yang masif. Tidak seperti saat ini seolah-olah programnya terkesan mendadak dan dipaksakan. “Misal saya. Mobilnya kan masih atas nama orang lain. Terus kalau daftar pun saya tidak tahu apakah bakal lolos atau tidak. Seharusnya aturannya lebih diperjelas dulu, baru diuji coba,” keluhnya.

Sementara itu di Bandung, sejumlah petugas SPBU mengaku belum mendapat informasi detail terkait penerapan MyPertamina. ”Sampai magrib ini belum ada instruksi dari atas. Biasanya kan dipanggil rapat dulu. Sekarang persiapan juga belum ada, jadi bingung ini,” tutur Marso, supervisor SPBU di Jalan Wastukencana, kepada Radar Bandung.

”Besok (hari ini) baru dilakukan pendaftaran sekalian menunggu data siapa aja yang sudah terdaftar dari Pertamina Pusat,’’ sambung Marso.

Sementara itu, pengelola SPBU di Jalan Dago akan menyosialisasikan kepada pengguna mobil yang mengisi BBM subsidi untuk mendaftarkan diri ke aplikasi MyPertamina.

”Persiapannya paling hanya memberi tahu warga untuk mendaftarkan mobilnya ke MyPertamina,’’ ujar petugas SPBU yang namanya tidak mau disebutkan.

Sedangkan, hari ini Pertamina mulai menerapkan aplikasi MyPertamina untuk pembelian BBM subsidi. Namun, pendaftaran masih diperuntukkan kendaraan roda empat di sebelas lokasi yang telah ditunjuk.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting kemarin (30/6) menjelaskan, pendaftaran kendaraan dilakukan melalui situs subsiditepat.mypertamina.id. Pada proses pendaftaran tersebut, pihaknya akan mencatat sejumlah data. Mulai jenis kendaraan, nomor polisi, hingga mencocokkan dengan surat kendaraan.

Hal itu diperlukan untuk menyeleksi kendaraan-kendaraan mana yang bisa mengisi BBM subsidi. Hingga kemarin pun revisi Perpres 191 Tahun 2014 belum rampung. Regulasi tersebut akan memerinci siapa saja yang berhak mendapatkan subsidi.

’’Saya tegaskan, pendaftaran saat ini kita buka untuk kendaraan roda empat, khususnya pengguna pertalite. Untuk solar sesuai Perpres 191 Tahun 2014. Tolong tekankan lagi, 1 Juli 2022 baru dimulai pendaftaran, registrasi,’’ tegas Irto pada konferensi pers secara hybrid kemarin (30/6).

Dia menggarisbawahi, situs pendaftaran subsiditepat.mypertamina.id dan aplikasi MyPertamina adalah dua hal berbeda. ’’Pendaftaran hanya di subsiditepat.mypertamina.id. Salah kaprah kalau ada orang yang bilang telah men-download aplikasi, ini dua platform yang berbeda,’’ katanya.

Dia menekankan, dalam proses pendaftaran itu, pembelian dan pembayaran BBM tetap dilakukan seperti biasa. Belum ada yang berubah. ’’Jadi saya luruskan, jangan sampai beranggapan kalau besok (hari ini 1 Juli) nggak punya QR code lalu ditolak. Itu tidak benar. Selama masa pendaftaran, semua proses pembelian masih seperti biasa,’’ urai Irto.

Setelah pendaftaran disetujui, pemilik kendaraan akan menerima QR code. Dia juga menggarisbawahi konsumen hanya perlu menunjukkan QR code saat akan membeli BBM. Dengan demikian, konsumen yang tidak membawa handphone pun tak memiliki kendala.

’’Bisa tunjukkan QR code dari handphone atau di-print. Jadi, QR code itu (sifatnya) benar-benar melekat pada kendaraan,’’ jelasnya.

Pembayaran pun masih seperti biasanya. Bisa menggunakan cash ataupun nontunai. Pembayaran tidak wajib menggunakan aplikasi MyPertamina. Pertamina akan terus melakukan sosialisasi menyeluruh terhadap proses itu. Harapannya, seluruh pihak bisa terlayani dengan baik.

Bagaimana jika tidak punya handphone ataupun tidak ada akses internet? Irto menyebut hal itu juga sudah dipikirkan solusinya. Pertamina akan menyiapkan booth khusus bagi masyarakat untuk melakukan pendaftaran secara manual.

’’Masyarakat nih nggak punya handphone, kalaupun punya, handphone-nya jadul. Apalagi punya laptop, tidak bisa ke warnet. Nanti kita siapkan beberapa titik SPBU yang akan jadi pusat pendaftaran,’’ tutur dia.

Selain itu, dia juga meluruskan terkait penggunaan handphone di lokasi SPBU. Sebab, seperti diketahui, penggunaan handphone di SPBU selama ini dilarang karena dapat memicu timbulnya insiden kebakaran ataupun ledakan.

Menurut dia, larangan penggunaan handphone itu adalah untuk komunikasi telepon di zona-zona yang berbahaya, kurang lebih 1,5 meter dari dispenser atau di area pembongkaran mobil tangki.

Irto melanjutkan, pembacaan QR code ataupun pembayaran bisa dilakukan sebelum atau sesudah pengisian BBM. Dengan demikian, persyaratan penggunaan handphone di SPBU bisa tetap dipatuhi.

’’Untuk menggunakan HP di SPBU itu 1,5 meter dari dispenser dan tidak mengambil foto menggunakan flash. Ini sudah kita kaji dari sisi safety-nya,’’ jelas Irto.

Sementara itu, Section Head Communication & Relation Patra Niaga Jatimbalinus Arya Yusa Dwicandra berharap masyarakat bersikap tenang mengenai isu pendaftaran MyPertamina. Dia menegaskan bahwa penerapan tersebut baru dalam tahap pendaftaran di 11 kota yang terpilih.

Tidak ada kota di wilayah Jatim yang masuk dalam daftar tersebut. Sebagaimana diketahui, 11 kota itu adalah Bukittinggi, Kabupaten Agam, Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, Banjarmasin, Bandung, Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Manado, Jogjakarta, dan Sukabumi. ’’Banyak rumor beredar bahwa beli BBM harus pakai aplikasi MyPertamina. Itu sama sekali tidak benar,’’ ungkapnya.

Dia menegaskan, proyek percontohan tersebut hanya untuk mengidentifikasi pembeli BBM jenis pertalite dan biosolar. Masyarakat yang mendaftar bakal mendapatkan QR code unik sebagai identitas mereka. Yang didata pun diakui hanya kendaraan roda empat ke atas. Hingga saat ini belum ada rencana untuk mendata kendaraan roda dua.

Hal tersebut bertujuan untuk memetakan penyaluran BBM. Pasalnya, penyerapan BBM untuk roda empat memang cukup besar. Terutama untuk BBM solar yang rawan penyelewengan. ’’Kita sampai saat ini masih mempertahankan harga di kisaran Rp 5 ribu per liter. Padahal, harga komersial solar sudah mencapai Rp 18 ribu per liter,’’ ungkapnya.

Penyaluran BBM tipe bensin di wilayah Jatimbalinus mencapai 17.500 kl per hari. Sedangkan, penyaluran BBM jenis solar mencapai 7.713 kl per hari. Sebanyak 80–90 persen dari penyaluran tersebut merupakan BBM subsidi. (dee/bil/c6/oni)My-Pertamina

Pos terkait