Biasanya, lanjut Abas, area pesawahan yang ia tanami padi dengan luas empat are itu mampu menghasilkan gabah seberat 5 kwintal.
Namun karena serangan hama ini, diprediksikan saat panen hanya akan menghasilkan gabah 1,5 kwintal. “Tapi, kalau dilihat dari isi padinya sangat mustahil, karena banyak tanaman padi yang tidak berisi akibat diserang hama blast,” paparnya.
Sebelum musim panen tutur Abas, para petani termasuk ia rutin menyemprotkan fungisida dan obat pembasmi hama ke tanaman padi agar tidak terancam gagal panen. “Namun sayang cara itu tetap tidak berhasil bahkan hanya menambah biaya produksi,” ujarnya.
Keluhan serupa dilontarkan warga Kampung Sunggapan, Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Mumun (47). Menurutnya, serangan hama atau jamur pada tanaman padi mengakibatkan produktivitas tanaman, turun hingga 50 persen.
“Sekitar dua hektar tanaman padi kami diserang hama blast, akibatnya padi yang ditanam dilahan seluas 10 hektar ini hanya sekitar 20 persen lahannya yang bisa menghasilkan,” timpalnya.
Menurut Mumun, kondisi saat ini mengancam para petani juga gagal panen. Sebab, menurut Mumun, hama blast yang menyerang tanamaan padi dapat mengakibatkan batang dan daun menjadi busuk.
Dampaknya, padi yang dihasilkan menjadi kosong dan kering. “Hama muncul saat tanaman padi mulai mengeluarkan butir padi.
Dan jenis hama ini menyerang tanaman padi dengan daun kuning. Apalagi intensitas curah hujan saat ini sangat tinggi sehingga lahan pertanian padi rawan terkena serangan hama blast,” pungkasnya. (cr13/d)





