“Berdasarkan hasil laporan dan pengecekan di lapangan, terdapat 9 orang yang terdampak bencana tersebut, empat orang meninggal dunia, kemudian lima orang lagi kondisinya luka dan sedang dirawat di rumah sakit,” paparnya.
Para santri yang meninggal dunia dan mengalami luka-luka ini, saat kejadian tersebut diketahui mereka tidak mengikuti pengajian dan berada di lokasi yang memang sudah dilarang oleh pihak sekolah untuk ditinggali, bahkan dilewati.
Sementara, untuk langkah BPBD Kabupaten Sukabumi setelah mengetahui kejadian tersebut, karena masih ada dua kolam yang ada di lokasi kejadian, maka BPBD Kabupaten Sukabumi menyarankan kepada pihak ponpes, untuk segera dikosongkan. Selain itu, kemudian juga alur air agar lebih dirapikan, supaya material longsor tidak bertambah. Ini perlu dilakukan sebagai salah satu bentuk upaya untuk meminimalisir terjadinya resiko bencana alam. Terlebih lagi, saat ini BPBD Kabupaten Sukabumi tengah siaga hidrometeorologi hingga Maret 2025 nanti.
“Berdasarkan asesmen di lapangan, di wilayah Ponpes tersebut terdapat empat kolam dan konstruksi tanah dibawahnya merupakan lahan dataran rendah, sehingga tergerus ke bawah karena mungkin aliran air tidak tertampung dan di sebelah sampingnya itu daerahnya sangat rawan dan juga bertebing, sehingga tergerus,” imbuhnya.
Bencana longsor yang terjadi di wilayah Ponpes tersebut hingga menyebabkan korban jiwa ini, bukan kali pertama terjadi, berdasarkan data yang tercatat di BPBD Kabupaten Sukabumi, sudah 3 kali kejadian bencana hingga menyebabkan kematian.






