DLH Sukabumi: Sampah Panggelesaran-Cibatu Liar

  • Whatsapp
NAMPAK KUMUH: Tumpukan sampah di Jalan Raya Panggelesaran - Cibatu, tepatnya di Kampung Pondokbitung, Desa Kertarajarja, Kecamatan Cikembar membuat kondisi jalan tampak kumuh.

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Denis Eriska angkat bicara mengenai banyaknya sampah yang berada di Jalan Raya Panggelesaran – Cibatu, Kecamatan Cikembar. Ia menilai, tumpukan sampah itu merupakan tumpukan sampah liar. “Bila dilihat dari fotonya, sampah itu merupakan sampah liar. Namun untuk memastikannya, nanti akan kami cek ke lapangan,” jelas Denis kepada Radar Sukabumi melalui telepon selulernya, kemarin (15/9).

Selain akan mengecek ke lapangan, DLH Kabupaten Sukabumi juga akan merancang kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang lebih efektif untuk pengenaan sanksi administratif bagi warga maupun pengendara lalu lintas yang membuang sampah sembarangan. “Perbupnya lagi kami susun. Insaa Allah, dalam waktu dekat ini DLH akan langsung turun ke lapangan untuk melakukan OTT sampah,” tandasnya.

Bacaan Lainnya

Seperti diberitakan sebelumnya, warga dan pengendara mengeluhkan tumpukan sampah di kawasan Jalan Raya Panggelesaran – Cibatu, Kecamatan Cikembar. Selain merusak estetika dan lingkungan, juga menimbulkan bau tak sedap dan rawan penyebaran penyakit.

Pantauan Radar Sukabumi, di sepanjang Jalan Raya Panggelesaran ini terdapat dua titik tumpukan sampah di pinggir jalan. Pertama di Kampung Pasir Astana, Desa/Kecamatan Cikembar dan di Kampung Pondokbitung, Desa Kertarajarja, Kecamatan Cikembar.

Seorang warga Kampung Tanjakanlengka, RT 4/4, Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar, Munajat (55) mengatakan, sampah yang berada di pinggir Jalan Raya Panggelesaran, tepatnya di Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar itu sudah lama menumpuk. Akibatnya, warga maupun para pengendara yang melintas terganggu karena bau yang ditimbulkan itu. “Biasanya sih rutin diangkut, tapi entah kenapa sudah tiga hari ini tidak diangkut juga,” jelas Munajat kepada Radar Sukabumi.

Tumpukan sampah ini, sambung Munajat, selain menimbulkan bau tidak sedap, juga jalan ini terlihat lebih kumuh dan semrawut. Hal ini diduga karena kesadaran masyarakat di daerah ini terhadap kebersihan masih rendah. “Kami berharap pemerintah segera bertindak agar tidak mengganggu kenyamanan warga dan pengguna lalu lintas,” tandasnya.

Warga lainnya, Kamaludin (31) mengatakan, tumpukam sampah yang berada di wilayah Desa Cibatu, bukan hanya kali ini saja, melainkan sudah bertahun-tahun dan terkesan seperti dibiarkan. “Sampah yang menumpuk ini merupakan sampah yang dihasilkan oleh warga dari berbagai kampung yang ada di Desa Cibatu. Selain warga, tidak sedikit pengguna jalan yang turut membuang sampah sehingga banyak sampah yang berceceran di badan jalan,” jelasnya.

Tumpukan dan bau sampah tersebut, papar Kamaludin, tentunya sangat mengganggu lingkungan sekitar dan pengguna jalan yang melintas. Hal ini, terjadi karena tidak adanya Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS). Sehingga sampah berserakan di pinggir jalan. “Karena tidak ada tempat pembuangan sampah sementara, sehingga warga buangnya ke sini,” bebernya.

Kondisi sampah ini pun kembali mendapatkan sorotan dari Komunitas Pemuda Peduli Lingkungan Sukabumi (PPLS). Pasalnya, tumpukan sampah yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini dapat menimbulkan berbagai penyakit apabila dibiarkan begitu saja. “Tumpukan sampah itu, selain dapat mencemari air dan tanah yang berada di sekitarnya, juga dapat mempercepat pemanasan global karena menghasilkan gas metan yang bisa merusak atmosfer. Jelas perlu serius menangani sampah karena banyak penyakit yang timbul disebabkan sampah,” kata Ketua PPLS, Taufik.

Menurut Taufik, sampah masih saja jadi persoalan utama yang harus mendapatkan perhatian dan penanganan khusus dari pihak pemerintah. Untuk itu, edukasi dan kampanye mengenai bahaya sampah harus terus berkesinambungan diberikan terhadap masyarakat. Hal ini dilakukan agar masyarakat sadar dan merubah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. “Edukasi daur ulang harus terus dilakukan agar masyarakat sadar bahwa tumpukan sampah ini dapat menimbulkan penyakit dan bencana alam. Apabila hal ini dilakukan, kami yakin nantinya dapat memutus jaringan buang sampah sembarangan,” pungkasnya.

(den/rs)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *