SUKABUMI, RADARSUKABUMI.COM – Walikota Sukabumi Achmad Fahmi melakukan pertemuan dengan sembilan orang kepala sekolah (Kepsek) tingkatan PAUD, SD dan SMP yang menjadi pilot project penerapan Program Sekolah Penggerak di Balai Kota Sukabumi, baru-baru ini. Langkah itu dilakukan untuk mengetahui kendala dan harapan dari sembilan sekolah yang masuk tahap pertama penerapan sekolah penggerak. Kegiatan ini dihadiri pula Plt Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kota Sukabumi, Cecep Mansur.
“Sembilan sekolah ini masuk dalam tahap awal Program Sekolah Penggerak,” ujar Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi kepada Radar Sukabumi.
Sembilan sekolah tersebut terdiri dari dua PAUD, empat SD, dan tiga tingkatan SMP. Ke depan kata Fahmi, seluruh sekolah di semua jenjang pendidikan akan menerapkan Program Sekolah Penggerak.
Sehingga dari sembilan kepala sekolah yang lebih awal ini dapat memberikan informasi mengenai apa yang harus disiapkan secara khusus, terkait pola perencanaan di tahun 2022.
“Alhamdulillah Kota Sukabumi salah satu daerah di Jabar menjadi daerah percontohan untuk melaksanakan Program Sekolah Penggerak,” ungkapnya.
Harapannya, program ini mampu mewujudkan generasi muda atau pelajar Pancasila dengan karakter unggul. Dari data yang ada pada tahap awal ada sembilan sekolah mulai TK, SD, hingga SMP di wilayah Kota Sukabumi yang menjadi Sekolah Penggerak.
Nantinya kata Fahmi, ke sembilan sekolah ini mampu menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain menjadi Sekolah Penggerak seutuhnya. Di mana Sekolah Penggerak merupakan upaya mewujudkan visi pendidikan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi Yemmy Yohanni menjelaskan, Program Sekolah Penggerak adalah program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari lima jenis intervensi untuk mengakselarasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran.
Lebih lanjut Yemmy menjelaskan bahwa Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik, dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi), serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Kepala sekolah dan guru dari sekolah penggerak melakukan pengimbasan kepada satuan pendidikan lain
“Selaras dengan kebijakan Standar Pelayanan Minimal serta target SDG, jenjang PAUD perlu dimaknai sebagai fondasi dari jenjang pendidikan dasar. Sehingga fokus Sekolah Penggerak untuk PAUD adalah penguatan kapasitas satuan PAUD untuk dapat memberikan layanan berkualitas agar anak secara holistik siap bersekolah (siap secara sosial emosional dan kognitif) dengan didampingi oleh keluarga dan ekosistem pendidikan di daerahnya. Fokus pada penguatan kapasitas satuan PAUD, diharapkan akan mengimbas kualitas layanan juga ke peserta didik usia di bawah 5 tahun yang ada di satuan tersebut,” terangnya.
Yemmy menambahkan, Program Sekolah Penggerak berbeda dengan program sekolah model atau sekolah rujukan. Perbedaannya adalah, Program Sekolah Penggerak merupakan program kolaborasi antara Kemdikbud dengan pemerintah daerah yang terdiri dari 5 jenis intervensi yang terintegrasi berupa pendampingan konsultatif dan asimetris kepada pemerintah daerah, pelatihan dan pendampingan kepala sekolah dan guru, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data, dan digitalisasi sekolah.
Memiliki ruang lingkup untuk jenjang PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB, baik sekolah negeri dan swasta mencakup seluruh kondisi dilakukan secara berkelanjutan, hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi sekolah penggerak program sekolah model atau sekolah rujukan merupakan program pusat dengan intervensi parsial, berupa bimtek
, bantuan pemerintah dan ruang lingkup tidak mencakup seluruh kondisi sekolah.
Adapun sembilan sekolah yang menjadi sekolah penggerak diantaranya, PAUD Aster Putih , PAUD Al Muhajirin
, SDN Cemerlang, SDN Pakujajar CBM, SD Budi Luhur, SD BPK Penabur , SMP Negeri 4, SMP IT Hayatan Toyyibah dan SMP Pelita YNH. (wdy)






