Dana Rutilahu ……….. Disunat ?

  • Whatsapp

PALABUHANRATU – Kepala Desa Waluran terpilih, Dudi Rusdiawan ditimpa isu tak sedap. Setelah pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak yang berlangsung pada Minggu (22/10) lalu, kini ia dituding melakukan pemotongan dana rumah tidak laik huni (Rutilahu) saat ia masih menjabat.

Informasi yang dihimpun Radar Sukabumi, Dudi merupakan calon Kades incumben yang kembali berhasil merebut kursi orang nomor satu di desanya pada Pilkades kemarin. Saat menjabat sebagai Kades, warga menduga ia telah menyunat dana Rutilahu untuk warganya, Kedin.

Bacaan Lainnya

Yang lantang melaporkan dugaan pemotongan bantuan program rumah tidak layak huni (rutilahu) itu ialah Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Wida Adawiyah. Menurutnya, di Kampung Cimulek, RT 01/04, Desa/Kecamatan Waluran ada penerima manfaat program Rutilahu yang diduga didzolimi.

Terlepas dari masalah politik atau bukan, ia menilai pemotongan bantuan Rutilahu itu jelas melanggar hukum.
“Saya sebagai mahasiswi tentu sangat prihatin melihat kelakuan Kades seperti itu.

Masa bantuan Rp200 ribu yang diterima Pak Kedin harus diaku Rp2 juta jika ada pemeriksaan. Ini kan sangat keterlaluan,” kata Wida kepada Radar Sukabumi, kemarin (24/10).

Menurutnya, program tersebut merupakan program tahun anggaran 2016. Selain Rp200 ribu, Kedin juga hanya menerima cat saja. Sehingga ia menilai, dana bantuan Rutilahu itu disunat sang Kades yang kini terpilih kembali.
“Saya mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan. Karena ini jelas-jelas penyelewengan,” desaknya.
Berdasarkan video yang direkamnya, Kedin benar-benar mengaku didzolimi Kades terpilih. “Saya dapat bantuan Rp200 ribu tapi kalau ada pemeriksaan harus diaku Rp2 juta,” aku Kedin.

Sementara itu, Dudi Rusdiawan membantah jika dirinya melakukan pemenggalan bantuan Rutilahu tersebut. Ia membenarkan jika uang tunai yang diserahkan kepada Kedin hanya Rp200 ribu. Sedangkan sisanya ia membelanjakannya kepada material bangunan.

“Tim desa membelanjakannya untuk cat, suvenir, papan dan bilik. Kita membelanjakan material itu ada kekhawatiran rumahnya tidak dibangunkan. Jadi, kondisi bangunan saat ini merupakan hasil renovasi bantuan Rutilahu itu. Ini bukan program 2016, tapi 2014. Dananya dari Dinsos atau Baznas,” bebernya.

Ia juga menilai, masalah itu muncul akibat ketidakpuasan yang menjadi lawannya setelah kalah di Pilkades. “Saya harap masalah seperti ini tidak dibesar-besarkan. Mari kita membangun desa kita,” ajaknya. (ryl/t)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *