Bukber di Kantor Desa Sukamulya Sukabumi Ricuh Akibat Pertanyaan Proyek

Seorang warga diamankan saat kericuhan acara buka puasa bersama di Kantor Desa Sukamulya, Kabupaten Sukabumi. (sumber foto detikcom)

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Kericuhan terjadi pada saat acara buka puasa bersama atau bukber yang diadakan oleh Kantor Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Pada acara yang mengundang sebanyak 100 orang warga setempat itu menjadi kacau, terjadi aksi saling dorong hingga kaca jendela kantor desa pecah.

Kepala Desa Sukamulya Dudun Ibrahim mengatakan, rangkaian acara tersebut diisi seperti tausiyah, buka bersama dan salat magrib berjamaah. Awalnya berjalan dengan lancar, tapi tiba-tiba berubah saat salah seorang warga datang dan menanyakan soal proyek yang akan dibangun di wilayah mereka.

Pertanyaan tersebut memicu emosi Kades Dudun sehingga menggebrak meja. Walhasil, sejumlah wargapun ikut tersulut dan marah lantas berupaya untuk mendekati Dudun. Aksi tersebut langsung diamankan oleh aparat keamanan dan aparat desa.

“Dalam rangka buka puasa, saya buka surat undangan 100 orang, yang diundang adalah, BPD, LPM para ketua RW, tokoh alim ulama, karang taruna dan Bumdes. Tiba-tiba ada oknum warga tanpa undangan, (tuntutannya apa) enggak tahu saya juga, yang dituntut masalah pembangunan kan belum ada pembangunan,” kata Dudun kepada wartawan.

Dudun menyesalkan terjadinya kericuhan tersebut, seharusnya menurut Dudun acara yang digelar Sabtu sore itu hanya sebatas acara bukber. Ada pun persoalan proyek, akan diumumkan secara terbuka di kegiatan lainnya.

“Itu masalahnya kalau toh masyarakat hanya memberitahukan diundang, sebagai tokoh-tokoh dulu sebelum masyarakat. Nanti pihak proyek akan melaksanakan kegiatan maka diumumkan dulu diundang tokoh masyarakat dulu, kita kan lembaga kaitan nanti siapa saja yang kena nanti garapannya harus dipatok dulu mana yang garapan dipatok dulu baru perencanaan,” ungkapnya.

“Mau segera dilaksanakan harus penataan dulu enggak langsung terburu-buru enggak. Persiapan itu, hanya mereka sampai meributkan sampai memecahkan kaca tolonglah dijaga jangan sampai begitu, kita tujuan buka puasa Pak. Oleh ustaz, MUI, BPD tiba-tiba ada yang menanyakan pembangunan, kata saya nanti saja setelah sesi yang lain. Negara kita negara hukum loh kalau ada apa-apa yang dibomingkan oleh mereka masa pemerintah kalah, pemerintah yang tangani nanti,” sambung dia.

Dudun mengaku sempat emosi hingga menggebrak meja, terlebih yang menanyakan soal proyek tersebut adalah mereka yang tidak diundang dalam kegiatan tersebut.

“Saya memukul meja, karena dia tidak diundang, membicarakan pembangunan kan bukan ranah tanya jawab di situ. Maka saya tolong nanti ada besok lagi, lusa kan nanti kita terbuka di situ. Dia ngotot terus ini mantan kades yang dulu, harapan saya kondusif, tidak ada oknum tidak ada yang menumpangi,” ujar Dudun.

Sementara itu, Ade Rosidin salah seorang warga yang berada di lokasi menyebut kedatangan sejumlah warga hanya ingin adanya keadilan terkait rencana pembangunan proyek tersebut. Ade menilai, kades tidak bisa mengakomodir harapan warganya.

“Tuntutan kami warga terdampak ingin keadilan. Simpel sebenarnya kami minta proyek itu dibagi dua dengan lingkungan kami di sana (ada) empat lingkungan. Tapi ternyata waktu itu sudah dimediasi oleh kepala desa di desa dibagi dua, tapi tiba-tiba warga masyarakat diadakan (kesepakatan) lagi yang menggiring itu anaknya (kades) namanya (inisial) A. Kan jadi indikasi di situ jadi tanda tanya kok anaknya aja yang bisa usaha di sana, masyarakat tidak diakomodir. Harapannya pihak desa menampung aspirasi kami ada pekerjaan tolonglah dibagi karena kami juga warga masyarakat jadi ada perusahaan di sini harus bisa menikmati jangan hanya dampaknya saja,” beber Ade.

Hingga saat ini situasi di sekitar kantor desa sudah kondusif, beberapa warga yang sempat terlibat kericuhan juga sudah diminta pulang oleh masing-masing tokoh masyarakat. (int/izo/rs)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.