Sang pengelola yaitu Andries De Wilde membangun 20 kilometer irigasi yang disalurkan dari Sungai Cikolawing dan Cicatih.
Dalam catatan peneliti Pieter Willem Korthals tanggal 2 Juli 1831, wilayah yang dia sebut The Badaks (Cibadak), memiliki irigasi yang dibuat di sungai Tjitjati dengan lembah berumput dan kontur yang tajam. Irigasi ini digunakan untuk mengairi perkebunan tanam paksa/ Cultuur Stelsel (1830- 1870).
Tjiheulang Berganti Nama Menjadi Cibadak Setelah Dibangun Stasiun KA (1879- 1882). Pasca dibangunnya Stasiun Kereta Api (KA) Cibadak, nama Cibadak semakin populer. Sehingga pada 17 Mei 1913 Distrik Ciheulang berubah nama menjadi distrik Cibadak dan dikenal pada masa awal kemerdekaan sebagai Kawedanaan Cibadak.
6. Pernah Menjadi Pabrik Kokain Dunia
Pabrik pengolahan daun koka bahan Kokain dan turunannya dimana saat itu hasilnya di ekspor ke negara-negara Eropa untuk kepentingan medis dan pengobatan korban perang, terletak di dekat Perkebunan Sukamaju Cibadak tepatnya di kampung Malingut -Sukamaju, Desa Warnajati, Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi.
Berdasarkan halaman Facebook Jelajah Sukabumi, keberadaan pabrik kokain ini sendiri sejak tahun 1942 telah berubah menjadi kebun karet dan pabriknya sendiri pada tahun 1980an, terakhir menjadi pabrik sendal karet.
Di dalam Bataviasch Nieuwsblaad September 1919, disebutkan bahwa pemilik perusahaan pabrik pengolahan daun koka bahan Kokain tersebut adalah firma dagang Geo Wehry dan Co berasal dari Swiss dan perusahaannya yang berdiri sejak tahun 1883 dan menggunakan nama perusahaan Belanda bernama N.V Preanger Company itu dilikuidasi pada tahun 1921 karena kualitas daun coca dari pulau Jawa kalah kualitas dari Peru (sumber – buku: “Cocaine: Global Histories” edited by Paul Gootenberg).(hnd)




