BERITA UTAMAKABUPATEN SUKABUMI

6 Fakta Unik Kota Cibadak, Wilayah Kecil Miliki Peran Besar Peradaban Dunia

×

6 Fakta Unik Kota Cibadak, Wilayah Kecil Miliki Peran Besar Peradaban Dunia

Sebarkan artikel ini
FAKTA SEJARAH : Pengambilan Foto kira - kira diambil dari titik lokasi depan Terminal Cibadak sekarang, kearah Jembatan Sungai Cicatih (Pamuruyan), dengan Gunung Salak sebagai latar belakang.(Foto :  Koninklijk Leger Colectie tahun 1947)
FAKTA SEJARAH : Pengambilan Foto kira - kira diambil dari titik lokasi depan Terminal Cibadak sekarang, kearah Jembatan Sungai Cicatih (Pamuruyan), dengan Gunung Salak sebagai latar belakang.(Foto :  Koninklijk Leger Colectie tahun 1947)

Delapan buah kapak batu juga ditemukan di Cikidang, dua di antaranya ditemukan di Pasir Rarangan, Menurut informasi Saat ini keberadaan kapak-kapak tersebut berada di Museum Pusat Jakarta.

bank BJB

Sejarah Cibadak juga diwarnai masa logam, dibuktikan dengan temuan tiga buah kapak perunggu di Munjul oleh Mr. J.G. Huisjer pada 1871, Penemuan kapak perunggu ini bersamaan dengan kepingan periuk belanga. Kemudian di Sinagar, Nagrak, ditemukan dua lonceng perunggu, dua cermin dan sebuah piring logam.

3. Kabuyutan Sanghiyang Tapak

Sanghyang Tapak adalah sebuah kabuyutan di Cibadak, nama itu disebut dalam prasasti yang ditemukan di wilayah Cibadak, pada tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 atau 11 Oktober 1030, ini terdiri dari empat buah batu bertulis yang ditemukan di aliran Sungai Citatih, sebuah lagi ditemukan pada 1890 di hutan pinggir sungai yang sama, tepatnya di dekat Leuwi Kalabang.

Prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan oleh Wedana Cibadak saat itu ke Museum Batavia (Jakarta), kemudian pihak Museum memberi nomor koleksi D 73.

Tiga prasasti lain yang ada hubungannya dengan Sri Jayabhupati, ditemukan J. Faes pada 1897, dari dalam hutan Bantar Muncang, Kecamatan Cibadak. Ketiga prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan ke Museum Batavia, kemudian diberi nomor koleksi D.96, D.97, dan D.98.

Sesudah dibantu diterjemahkan oleh Patih Sukabumi Soeria Nata Legawa dan Dr Lord deu Brandes tahun 1899, akhirnya Pleyte menyimpulkannya di dalam sebuah artikel berjudul “Maharaja çri Jayabupathi Soenda’s Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai ” Prasasti Cibadak”.

Isi prasasti juga unik, karena dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur baik bahasa, gaya penuturan, dan penggunaan gelar.

Prasasti Cibadak menjelaskan bahwa Raja Sunda Sri Jayabuphati telah membuat tapak di sebelah timur kabuyutan Sanghyang Tapak. Sungai yang sudah dibatasi dengan dua batu besar di bagian hilir tadi, siapapun dilarang menangkap ikan dengan ancaman kutukan, sebuah metode keseimbangan alam masa lalu.

Kabuyutan ini menurut Pleyte berhubungan juga dengan tempat perlindungan di sekitar Perbakti di Kecamatan Cicurug. Sesudah mengkomparasikan prasasti ini dengan Pustaka Nusantara I/2, diketahui hubungan kekerabatan dengan raja-raja wilayah lain seperti Dharmawangsa, kemudian Raja Melayu, Raja Sriwijaya, Mentri Bali, dan lain-lain.

Jika dipetakan batas timur Sanghyang tapak ini cukup luas, dari sekitar Pamuruyan hingga Bantar Muncang, atau malah bisa jadi lebih luas dari Kota Cibadak. Hal ini memunculkan asumsi bahwa Ibu kota Kerajaan Sri Jayabupathi berada di Wilayah Cibadak.

4. Jalur Irigasi dan Perkebunan Teh Pertama Milik Hindia Belanda

Fakta jejak sejarah jalur irigasi Perkebunan kolonial yang pernah menjadi perkebunan Teh Pertama & Terluas di Hindia Belanda, “NV SINAGAR- TJIROHANI ESTATE” Yang perkembangan pemanfaatannya selain Untuk saluran irigasi Perkebunan Thee en Koffie, Pertanian, pengairan Pesawahan warga & pembangkit listrik (Turbine Electric), yang unik, membentang serta berkelok indah menyusuri lembah subur dari mulai Waterkracht

Menurut beberapa sumber, mengatakan bahwa irigasi ini awalnya sudah dibangun oleh Tokoh bersama masyarakat pribumi sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Wilayah Pasir luhur (Nagrak/ Nengrak), namun kemudian lebih disempurnakan lagi dan diperpanjang alirannya di Era kejayaan Perkebunan kolonial Belanda, yang Ketika waktu itu, sekitar thn Cibadak lebih populer dengan Nama Kawadanaan Ciheulang.

5. Awal Wilayah Cibadak Muncul

Pembangunan infrastruktur awal di Cibadak dilakukan sesudah pembelian wilayah ini oleh Engelhardt bersamaan dengan wilayah lainnya oleh Andries Wilde dan Raffles pada 1813.