Featured

Di Tengah Hutan Bambu Mereka Menghelat Resepsi Pernikahan

×

Di Tengah Hutan Bambu Mereka Menghelat Resepsi Pernikahan

Sebarkan artikel ini
Dardi Affunnai dan Hasrawati menghelat resepsi pernikahan di hutan bambu Dusun Tiga Alu, Desa Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis lalu (17/1).

RADARSUKABUMI.com – Mulai tempat duduk mempelai, kursi para tamu, sampai kotak angpau terbuat dari anyaman bambu. Ritual penyerahan mahar pun menggunakan rakit.

FARISAL, Polman

Bank bjb Tandamata

DI tengah hutan bambu pasangan pengantin itu bersanding. Di bawah kelindan kembang dekorasi. Berhadapan dengan kursi bambu untuk para tamu yang dianyam rapi. Hanya beratap kain kuning dan putih. ”Saya bukan keturunan raja, tetapi niat melestarikan budaya besar,” kata Dardi Affunnai yang memperistri Hasrawati kepada Fajar.

Budaya warga di Dusun Tiga Alu, Desa Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tempat hutan bambu itu berada, memang mewajibkan menjaga keseimbangan dengan alam.

Menghelat hajatan nikah di hutan bambu seluas 20 hektare Kamis lalu itu (17/1), bagi Dardi dan Hasrawati, menjadikan adat lebih membumi. Dan, anak-anak muda zaman sekarang juga jadi bisa lebih mengenal kekayaan budaya. Sekaligus menumbuhkan unsur romantisme natural.

Sehari-hari Dardi adalah penyuluh pertanian. Dia lahir di Alu, desa yang masuk wilayah Kecamatan Alu, pada 10 Januari 1986. Sementara itu, Hasrawati lahir 5 Februari 1993. Busana yang dikenakan keluarga mempelai perempuan, misalnya, juga mencerminkan keserasian dengan alam. Berupa baju bodo, pakaian khas perempuan Sulawesi Barat, berwarna hijau.

Selaras dengan warna bambu. Kesan alam makin menyatu. Mereka memadukan baju bodo dengan sarung tenun motif kotak, kuning, dan hijau pula. Sebuah keranjang, juga dari anyaman bambu, diletakkan di depan kedua mempelai. Fungsinya sebagai pengganti kotak passolo (tempat memasukkan angpau) yang sering dipakai pada pesta Bugis-Makassar umumnya. Sementara itu, pintu masuknya diberi hiasan bunga dan tulisan dari susunan bambu.

Untuk menghelat resepsi di tempat tidak lazim itu, persiapannya terbilang singkat. Hanya 15 hari. Desain area dikerjakan dengan gotong royong oleh keluarga Dardi. Singkat, tetapi konsepnya sangat matang. Itu juga terlihat dari penganan tradisional yang disuguhkan. Ada undo, lawar, dan jepa. Sementara untuk hiburan, ditandai dengan adanya suara gendang bertalu-talu. Lalu, dua pesilat beradu jurus.