SUKABUMI – Hubungan emosional antara masyarakat Turki dan Indonesia rupanya bukan sekadar cerita sejarah.
Rasa kasih sayang yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang bangsa Turki, kini mewujud dalam aksi nyata kemanusiaan di tanah Pasundan.
Yayasan Sehati Gerak Bersama berkolaborasi dengan lembaga kemanusiaan asal Turki, Beyaz Köprü Derneği (Asosiasi Jembatan Putih), menggelar aksi sunatan massal bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, pada Selasa (30/6/2026).
Perwakilan dari Beyaz Köprü Derneği, Haşim Karataş, mengungkapkan bahwa aksi ini didasari oleh rasa persaudaraan yang mendalam.
“Kami orang-orang Turki memiliki rasa kasih sayang kepada masyarakat Indonesia yang diwarisi dari nenek moyang kami. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun,” ujar Haşim di sela-sela kegiatan.
Dalam aksi kali ini, sebanyak 15 anak di wilayah Kecamatan Sukabumi mendapatkan layanan khitan gratis. Haşim menjelaskan bahwa pemilihan Sukabumi sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada informasi mengenai masih adanya kantong-kantong kemiskinan di wilayah tersebut.
“Teman-teman dari Yayasan Sehati memberikan informasi kepada kami. Itulah mengapa kami memilih wilayah ini dan mengutamakan anak-anak yang memang membutuhkan bantuan,” tambahnya.
Beyaz Köprü Derneği sendiri bukan orang baru dalam dunia filantropi internasional. Selama kurang lebih 20 tahun, asosiasi yang didanai secara swadaya oleh para donatur di Turki ini telah bergerak di berbagai belahan dunia, mulai dari Filipina hingga negara-negara Afrika seperti Uganda, Chad, dan Kamerun.
Di Indonesia, selain sunatan massal, mereka juga kerap menyalurkan sedekah secara langsung serta memberikan santunan makanan bagi anak-anak yatim.
Kendati aktif memberikan bantuan, Haşim menyelipkan sebuah refleksi mendalam mengenai visi jangka panjang aksi kemanusiaan mereka.
Alih-alih ingin terus memberi, ia justru berharap suatu saat nanti bantuan seperti ini tidak diperlukan lagi karena masyarakat sudah sejahtera.
“Harapan dan keinginan kami adalah agar tidak ada lagi orang miskin di bumi, agar semua orang dapat mandiri dan tidak bergantung pada kami,” tegas Haşim.
Ia menutup perbincangan dengan pernyataan yang menyentuh hati mengenai kemandirian universal.
“Kami sebenarnya tidak menyukai (fakta bahwa kami harus melakukan) pekerjaan yang kami lakukan ini. Kami ingin orang-orang mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Itulah yang kami impikan,” pungkasnya sembari menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat masyarakat Sukabumi. (why)






