ARTIKEL

Pesantren, Kawah Intelektual di Zaman Digital

×

Pesantren, Kawah Intelektual di Zaman Digital

Sebarkan artikel ini
Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc - Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal Sukabumi bersama dengan KH. imam Jazuli, Lc.MA Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon

DUNIA hari ini tidak lagi bergerak linear. Ia melompat. Disrupsi datang tanpa aba-aba. Di tengah guncangan itu, pesantren tidak bisa lagi menjadi “menara gading” yang eksklusif. KH. Imam Jazuli, Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, memberi peringatan tajam: “Perubahan tidak akan menyebabkan kematian, tapi merespon maupun tidaknya, maka lambat cepat akan mati.”

Kalimat ini seperti manifesto. Adaptasi adalah bentuk tertinggi dari ketahanan iman. Kita tidak sedang membicarakan perubahan substansi Islam, melainkan perubahan paradigma dalam berkhidmat bagi bangsa.

Bank bjb Tandamata

Dalam nahwu, ada Mabni (tetap) dan Mu’rob (berubah). Mabni adalah prinsip, akidah, akhlak, syariat. Itu harga mati. Mu’rob adalah strategi, manajemen, metodologi dakwah. Ia harus luwes. Responsif.

Sebagaimana kaidah ushul fiqh: “Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.” Kitab kuning tetap jadi ontologi spiritual. Ilmu modern jadi instrumen kemaslahatan umat di era teknologi.

Sabtu, 30 Mei 2026, Joglo Agung, Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon. Workshop Pengasuh Pesantren digelar. Hadir Direktur Pesantren Kemenag RI, Dr. Basnang Said. Ia menegaskan: pesantren adalah pilar utama SDM nasional. Mengelola 15 juta santri dari 43.000 pesantren di Indonesia.

Transformasi Imam Jazuli Foundation menitikberatkan pada mutu pendidikan, jumlah santri, sarana-prasarana, kualitas layanan. Inilah wujud nyata Ihsan dalam pendidikan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala sesuatu.”

Berbuat ihsan di pesantren berarti menghadirkan ekosistem nyaman, zero bullying, transparan. Tanpa menanggalkan identitas kesantrian.

Target besar Kiai Imam Jazuli jelas: santri shalih sekaligus menempati posisi strategis pembangunan. Bukan hanya pengajar lokal. Tapi diplomat. Teknokrat. Ilmuwan. Pemimpin bangsa berjiwa santri.

Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin: “Berpikir adalah kunci cahaya dan awal dari ketajaman pandangan.” Santri masa kini harus jadi problem solver. Bukan sekadar pengikut arus.

Ketika dunia teknologi menuntut efisiensi, santri hadir membawa etik. Ketika dunia butuh pemimpin jujur, santri hadir dengan integritas yang ditempa di asrama.

Identitas santri bertakwa adalah harga mati. Bahasa asing dan digital marketing bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan dakwah modern. Budaya akademik unggul adalah jalan menembus kampus dunia.

Dunia sedang menanti bukti nyata. Jangan biarkan pesantren hanya jadi tempat bertahan. Jadikan ia kawah cendekiawan yang menyiapkan arsitek masa depan.(*)

Penulis: Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc