BERITA UTAMA

Fenomena Lutung Jawa di Atap Rumah, Alarm Rusaknya Habitat Satwa

×

Fenomena Lutung Jawa di Atap Rumah, Alarm Rusaknya Habitat Satwa

Sebarkan artikel ini
Seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) diamankan warga di Kampung Cibalung, Desa Cijalingan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/2/2026). Satwa endemik dilindungi ini masuk ke pemukiman warga dan memicu kekhawatiran akan kondisi habitat primata di Sukabumi.
Seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) diamankan warga di Kampung Cibalung, Desa Cijalingan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/2/2026). Satwa endemik dilindungi ini masuk ke pemukiman warga dan memicu kekhawatiran akan kondisi habitat primata di Sukabumi.

SUKABUMI – Suasana tenang di Kampung Cibalung, Desa Cijalingan, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, mendadak riuh setelah seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) masuk ke pemukiman warga, Kamis (5/2/2026). Satwa endemik berbulu hitam yang dilindungi undang-undang ini melompat dari atap ke atap rumah hingga akhirnya masuk ke salah satu kamar warga.

Bank bjb Tandamata

Ketakutan menyelimuti warga, terutama orang tua yang khawatir akan keselamatan anak-anak mereka. Proses evakuasi berlangsung dramatis. Tanpa peralatan standar, lima orang warga nekat menyergap lutung tersebut hanya dengan karung dan keberanian.

“Kami evakuasi pakai alat seadanya saja. Di dalam kamar ada sekitar lima orang yang mengepung,” kata Yusuf Maulana (34), warga yang kini mengamankan satwa tersebut.

Meski sempat menunjukkan perilaku agresif akibat stres, lutung akhirnya berhasil diamankan tanpa melukai siapapun. Namun, Yusuf mengaku khawatir karena tidak memiliki keahlian merawat satwa dilindungi. “Dikasih buah-buahan tidak mau, tapi pas dikasih kembang buah baru mau makan. Saya khawatir kalau dia sakit atau kelaparan,” ujarnya.

Fenomena lutung masuk kampung bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, kasus serupa muncul di Kampung Cibolang Kidul, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat. Para ahli lingkungan menilai peristiwa ini sebagai indikasi rusaknya koridor hijau dan menipisnya ketersediaan pakan di habitat asli mereka.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu tindakan nyata dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Meski laporan sudah disampaikan dan mendapat respons awal, tim evakuasi lanjutan belum tiba di lokasi.