KABUPATEN SUKABUMI

Cerita Saryono yang Masih Berjuang Jadi ASN Padahal 33 Tahun Mengabdi di Pelosok

×

Cerita Saryono yang Masih Berjuang Jadi ASN Padahal 33 Tahun Mengabdi di Pelosok

Sebarkan artikel ini
MENGAJAR: Saryono saat mengajar di MIS Tegalpanjang, Kecamatan Ciemas.
MENGAJAR: Saryono saat mengajar di MIS Tegalpanjang, Kecamatan Ciemas.

SUKABUMI – Usia boleh menua, tapi semangat Saryono (55), guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Tegalpanjang, Kecamatan Ciemas, tak pernah padam. Selama 33 tahun, ia setia mengajar anak-anak di pelosok, meski statusnya belum juga diangkat sebagai ASN.

Setiap hari, pria asal Kampung Jaringao, Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap ini menempuh perjalanan tujuh kilometer melewati jalan rusak dan berlumpur dengan motor tuanya demi hadir di kelas.

Bank bjb Tandamata

“Dulu digaji Rp10 ribu dari iuran SPP. Sekarang pun masih pakai motor tua, lewat jalan becek saat hujan. Tapi demi anak-anak, saya tetap semangat,” ujarnya, Minggu (6/7/2025).

Honor yang diterima hanya Rp350 ribu per triwulan, bergantung pada pencairan dana BOS. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Saryono bertani, sementara istrinya berdagang kecil-kecilan. Ia juga menanggung dua kakak iparnya yang sudah tidak bekerja.

Sejak 2003, ia telah mencoba berbagai jalur agar diangkat menjadi ASN, mulai dari Guru Bantu Sekolah (GBS), sertifikasi, hingga seleksi PPPK. Namun hingga kini, harapan itu belum terwujud.

“Usia saya sudah 55 tahun, pengabdian 33 tahun. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Saya mohon pemerintah beri kesempatan,” ucapnya lirih.