SUKABUMI — Sempat diwarnai aksi protes warga, warung warung dan bale yang berada di area Pasar Monyet di kawasan wisata Sukawayana dan Karangnaya serta Katapang Condong yang berlokasi di dua desa yakni desa Cikakak kecamatan Cikakak dan Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu akhirnya rata dengan tanah.
Sejumlah warga yang melakukan protes, bukan untuk menghalangi petugas yang melakukan proses pembongkaran bangunan warung dan bale-bale dengan menggunakan alat berat eskavator, namun karena ingin melakukannya secara mandiri.
Salah satu warga yang melakukan protes, Jajang mengatakan, pembongkaran yang dilakukan tim terpadu, yakni pemerintah dan pihak pengembang dengan menggunakan eskavator akan merusak barang barang ataupun bahan material dari bangunan warung dan bale bale.
“Kalau begini otomatis rusak, tidak bisa diambil, tidak bisa dimanfaatkan lagi, saya bukan membangkang, saya dapat kerohiman 2 juta semua sama, cukup gak uang segitu dengan secepat ini,” ujarnya.
Jajang mengaku sebelumnya memang sudah mendapat surat peringatan (Sp) dua kali, dan sudah menerima uang kerohiman untuk pembongkaran, bahkan barang barang ataupun perabotan sudah di kosongkan.
“Itu berarti saya tidak mengabaikan, udah ada action, cuman saya minta kebijakan kealotan pembongkaran, kalau pakai alat berat ini hancur semua material bangunan, pengen dibongkar sendiri,” ucapnya.
Sementara itu, Diah Qurani Kristina, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Bogor saat dikonfirmasi mengatakan, rencana pembongkaran bangunan di kawasan Sukawayana dan Karangnaya tersebut sudah disosialisasikan cukup lama, karena memang lokasinya adalah kawasan hutan konservasi.
“Disini adalah taman wisata alam sukawayana, dan disebrangnya itu adalah kawasan hutan konservasi yang peruntukannya bukan untuk non prosedural, semua harus ada peraturannya,” ujarnya.
Namun kata Diah, kebetulan lokasi kawasan Sukawayana dan Karangnaya tersebut akan dikembangkan untuk menjadi wisata yang lebih baik, bahkan dengan estetika yang juga jauh lebih bagus.






