BERITA UTAMA

Perusahaan Pertambangan Sukabumi Segera Dipanggil Polisi, Kapolres: Ada Tiga yang Diundang!

×

Perusahaan Pertambangan Sukabumi Segera Dipanggil Polisi, Kapolres: Ada Tiga yang Diundang!

Sebarkan artikel ini
tambang galian C di wilayah Desa Padabeunghar
AKTIVITAS TAMBANG: Suasana di lokasi aktivitas tambang galian C di wilayah Desa Padabeunghar, Kecamatan Jampangtengah.

SUKABUMI — Kapolres Sukabumi AKBP Dr. Samian angkat bicara menyoal bencana alam banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah selatan kabupaten Sukabumi akibat adanya pertambangan.

Diakui Kapolres Samian, ramai adanya bencana alam yang menerjang di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi dari informasi-informasi lembaga terkait, lembaga swadaya masyarakat terkait indikasi adanya dugaan dari aktivitas pertambangan.

bank BJB

 “Adanya informasi tersebut tentunya kita terimakasih, kita akan jadikan dasar awal untuk melakukan penyelidikan di lapangan,” ujar Samian. Senin, (16/12/2024).

Adapun terkait dengan PT – PT yang melakukan pertambangan, tegas Samian tentunya jajaran kepolisian dalam hal ini polres Sukabumi akan melakukan undangan klarifikasi.

“Kita akan melakukan penyelidikan di lapangan, apakah aktivitas pertambangan itu ada legalitas yang dikantongi,” jelasnya.

Lanjut Kapolres Samian, kemudian bagaimana terkait dengan kepedulian lingkungan pasca pihak PT PT atau perusahaan tersebut menambang atau proses menambangnya.

“Dalam minggu ini kita undang 3 perusahaan untuk klarifikasi, itu tersebar di beberapa kecamatan-kecamatan,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan, bencana alam banjir yang melanda Kabupaten Sukabumi pada 2 Desember 2024 lalu, telah menimbulkan dampak serius terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat, terdapat 39 kecamatan dan 176 desa terdampak banjir serta risiko belasan warga meninggal dan hilang, akibat bencana alam di Kabupaten Sukabumi.

Direktur Eksekutif Walhi Daerah Jawa Barat, Wahyudin mengatakan, hasil pemantauan citra satelit, sedikitnya terdapat beberapa kawasan hutan yang telah hancur tutupan hutannya. Kehancuran hutan itu, diduga kuat karena aktivitas pertambangan emas, dan tambang galian kuarsa. (ndi/d)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *