PENDIDIKAN

Siswa SMAIT Nun Kaffah Al Huffazh Sukabumi, Raih Juara 1 Pencak Silat Tingkat Nasional di Kapolri Cup 2

×

Siswa SMAIT Nun Kaffah Al Huffazh Sukabumi, Raih Juara 1 Pencak Silat Tingkat Nasional di Kapolri Cup 2

Sebarkan artikel ini
SMAIT Nun Kaffah Al Huffazh

SUKABUMI – Moch Alif Al Kahfi, siswa SMAIT Nun Kaffah Al Huffazh, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara 1 pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Kapolri Cup 2 yang diselenggarakan di GOR Ciracas, Jakarta Timur, dari tanggal 19 hingga 22 September 2024.

Prestasi ini menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Alif dan keluarganya, tetapi juga bagi seluruh komunitas di Pesantren Terpadu Nun Kaffah Al Huffazh, Sukabumi.

Bank bjb Tandamata

Dalam kejuaraan yang diikuti oleh ribuan atlet dari seluruh Indonesia, Alif tampil dengan penuh ketenangan dan ketangguhan di atas gelanggang. Berkat kerja keras, disiplin, dan latihan yang intens, ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya dalam berbagai kategori pertandingan dan akhirnya dinobatkan sebagai juara pertama di tingkat nasional.

Ketua Yayasan Nun Kaffah Sukabumi, Dina Susanti, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian para santri, terutama Moch Alif Al Kahfi yang telah berhasil menorehkan prestasi di kancah nasional. “Masya Allah Tabarakallah, prestasi ini adalah bukti bahwa santri Pesantren Terpadu Nun Kaffah Al Huffazh tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga di berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik,” ujar Dina Susanti dengan penuh semangat.

Ia menambahkan bahwa pencak silat merupakan salah satu program wajib di pesantren tersebut. “Silat bukan hanya melatih keterampilan fisik, tetapi juga mengajarkan santri untuk mengendalikan emosi dan menjunjung tinggi sportivitas dalam pertandingan,” jelasnya. Ekstrakurikuler pencak silat diadakan setiap Selasa sore dan Jumat malam, di mana seluruh santri diwajibkan untuk berpartisipasi.

Dina Susanti juga berharap agar prestasi ini dapat memotivasi para santri lainnya untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan bakat dan potensi mereka. “Setiap anak memiliki keistimewaan dan bakat masing-masing. Tidak ada anak yang ‘bodoh,’ hanya perlu diarahkan ke jalur yang tepat agar mereka bisa menjadi manfaat bagi sekelilingnya,” tambahnya.