PURWAKARTA – Masyarakat terutama para pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gapura Tirta Rahayu, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Jabar) menggeluhkan pelayanan/penanganan dari perusahaan tersebut.
Pasalnya, sudah lebih dari sepuluh hari pasokan air dari PDAM tidak mengalir secara normal ke para pelanggan. Akibatnya, sebagian besar pelanggan PDAM kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Radar Sukabumi, hampir seluruh pelanggan di kawasan Jalan R.E Martadinata, Purwakarta, lebih dari sepekan ini tidak mendapatkan sumber air dari PDAM Gapura Tirta Rahayu.
“Ya lebih dari 10 hari ini air PDAM tidak ngalir, akibatnya para penghuni kamar kontrakan di kawasan Jalan Martadinata, mengeluhkan pelayanan PDAM,” ungkap Dede, pengelolah rumah/kamar kontrakan di Purwakarta.
Terkait banyak keluhan dari pelanggan/pengguna air PDAM tersebut. Pihak DPRD Purwakarta melalui Komisi II mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak PDAM Gapura Tirta Rahayu, pada Jumat (11/10/2024).
RDP dipimpin langsung oleh Ketua Komisi II Devi Mutiara Sari, didampingi Sekretaris Komisi II Lina Yuliani, serta beberapa anggota Komisi II, yakni Teddy Nandung Heryawan, Putriarti Putik, Dedi Juhari, Agus Wijaya.
Dalam RDP tersebut, dihadiri langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PDAM Gapura Tirta Rahayu, Riana Afriadi Wangsadiredja, dan didampingi oleh Kabag Hublang dan Kabag Umum PDAM Gapura Tirta Rahayu.
“Kita faham bahwa PDAM sedang mengadakan perbaikan atas saluran pipa yang mengalami kerusakan (bocor). Sehingga para pelanggan PDAM tidak mendapatkan haknya,” ujar Devi Mutiara.
Untuk itu, lanjutnya, Komisi II ingin mengetahui persoalan apa saja yang terjadi. “Karena kami sebagai fungsi pengawasan harus mengetahui untuk disampaikan kepada masyarakat yang bertanya kepada kami,” tegas Devi Mutiara.
Kenapa terjadi kebocoran dan ledakan pada pipa. “Saya kira kalau pemasangannya benar kemudian ada ledakan, tidak mungkin terjadi. Ada kemungkinan kualitas pipanya kurang bagus. Kami mendapat keluhan dari pelanggan PDAM, sebenarnya insiden ini bermula darimana kok nggak selesai-selesai dan berapa lama bisa diatasi,” tandasnya.
“Apa solusi mengatasi kelangkaan air PDAM ke pelanggan. Mereka mempertanyakan kenapa perbaikan kok lama banget seberat apa kerusakannya. Pelanggan tidak mau tahu persoalan yang dihadapi oleh manajemen PDAM. Kami memahami bagaimana pekerja dilapangan berupaya mengatasi masalah ini,” kata Devi Mutiara, menambahkan.
Dalam RDP tersebut, intinya Komisi II meminta terpenuhinya kebutuhan air kepada pelanggan selama PDAM melakukan perbaikan. “Saya salah satu pelanggan yang terdampak,” imbuh Dedi Juhari anggota Komsi II.
Hal senada juga disampaikan oleh anggota lainnya, yakni Teddy Nandung, Putriarti Putik, Agus Wijaya dan Lina Yuliani. “Saya sempat keliling ke beberapa tempat yang terdampak aliran air PDAM dan sampai hari ini masih ada yang belum mendapatkan kompensasi air dari PDAM,” kata Teddy Nandung.






