KOTA SUKABUMI

Jadi Anggota Dewan Kota Sukabumi Terlama, Ini Pesan Henry Slamet Untuk Dewan Yang Baru

×

Jadi Anggota Dewan Kota Sukabumi Terlama, Ini Pesan Henry Slamet Untuk Dewan Yang Baru

Sebarkan artikel ini
DPRD Kota Sukabumi

SUKABUMI Wajah-wajah lama dan baru menghiasi pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sukabumi di Gedung Anton Soejarwo Setukpa Polri, Senin (2/9). Dari 35 orang yang dilantik, ada sebanyaj 21 orang merupakan incumbent dan 14 orang merupakan anggota baru.

Henry Slamet dari Partai Demokrat menjadi salah satu anggota DPRD Kota Sukabumi terlama atau sudah lima periode menjabat. Kesuksesan Hendri ini, tidak terlepas dari kinerja baik yang ditorehkan selama menjabat menjadi wakil rakyat tersebut. Sehingga, Ia masih dipercaya menduduki jabatan sebagai anggota DPRD Kota Sukabumi 2024 – 2029.

Bank bjb Tandamata

Sejak pertama kali terjun ke gelanggang politik, pria yang akrab dipanggil Koh Apung ini tidak pernah kalah dalam pertarungan pemilu. Bahkan, dirinya pun masih setia menjadi punggawa partai berlambang bintang mercy sejak tahun 2004 lalu.

Kehadiran dirinya di DPRD Kota Sukabumi, tidak terlepas dari kepeduliannya terhadap kondisi masyarakat. Tak ayal, sejumlah aspirasi yang disampaikannya pun, bersumber dari kegelisahan masyarakat, khususnya di daerah pemilihannya, dapil Cikole-Citamiang. Bagi Hendry, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi anggota dewan, sehingga bagi anggota baru harus bisa menyesuaikan diri dengan mengikuti sejumlah bimbingan teknik, agar dalam mengemban amanah ini berjalan dengan baik.

“Kita tahu, fungsi DPRD itu ada tiga, legislasi, anggaran dan pengawasan. Namun hal itu tidak cukup tanpa mengikuti tahapan teori dan praktek di lapangan. Ibaratnya, kita belajar berenang, jika hanya teori tanpa mencoba tidak akan bisa-bisa. Begitu pun sebaliknya, jika kita lamgsung loncat ke dalam kolam kita akan tenggelam, bahkan tidak menutup kemungkinan di dalam kolam tersebut ada buayanya,” terang Henry.

Untuk itu, dia mengajak kepada anggota baru untuk sama-sama belajar dan harus selalu waspada. Terlebih untuk mengemukakan pendapatnya demi kepentingan masyarakat. “Selama lima tahun nanti, para anggota dewan ini harus bersuara, jangan jadi anggota dewan yang membisu,” tambahnya.

Henry mengaku, perbedaan pemilu kali ini tidak hanya terfokus pada kader pilihan partai, namun juga pada elektabilitas dan suara terbanyak. “Dulu jadi dewan itu tidak berdasarkan suara terbanyak, tetapi berdasarkan nomor urut. Maksudnya, jika nokor urut teratas merupakan kader terbaik partai. Kalau sekarang yang populer di masyarakat itu yang biaa menjadi teratas dalam pemilihan,” akunya.

Disinggung soal fokus permasalahan masyarakat, pria kelahiran tahun 1956 itu mengungkapkan, ada beberapa persoalan yang harus terus diperbaiki, diantaranya soal pendidikan dan permasalahan kesehatan.

“Seperti yang sering saya dengar keluhan masyarakat, yaitu pendidikan san keaehatan. Di mana, pada prinsipnya anak-anak wajib mengenyam pendidikan. Untuk itu perlu berbagai metode dalam mengatasi hal tersebut. Kalau pun untuk kesehatan memang sudah hampir 80 persen tercover dan sisanya mungkin yang benar-benar membutuhkan bisa digratiskan,” pungkasnya. (why)