KABUPATEN SUKABUMI

Warga Kampung Nelayan Talanca Loji Sukabumi Temukan Berkah di Balik Kesulitan, Berjuang di Tengah Sampah

×

Warga Kampung Nelayan Talanca Loji Sukabumi Temukan Berkah di Balik Kesulitan, Berjuang di Tengah Sampah

Sebarkan artikel ini
Sampah Pantai Talanca Loji
Warga kampung Nelayan Talanca Loji, saat memilah milah sampah

SIMPENAN – Senin sore (26/8) kemarin, ratusan warga kampung nelayan Pantai Talanca Loji, Kecamatan Simpenan menerima bantuan paket sembako dari Kapolres Sukabumi, AKBP Dr. Samian, beserta jajarannya dalam rangka bakti sosial.

Ternyata, sebagian besar warga di kampung ini menggantungkan hidup sebagai nelayan, namun ketika cuaca ditengah laut buruk dan tidak mendukung, mereka beralih menjadi pemulung barang bekas dan kayu kayu.

Bank bjb Tandamata

Serakan sampah yang sempat viral di Pantai Talanca, Loji, ternyata menjadi berkah tersendiri bagi ratusan warga Kampung Nelayan di Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Tami (65), seorang warga yang telah menetap di Kampung Nelayan Talanca Loji selama 15 tahun, menceritakan bahwa kesehariannya adalah melaut jika cuaca baik. Namun, saat kondisi laut tidak memungkinkan, ia dan keluarganya mengumpulkan barang-barang bekas yang tersebar di sepanjang Pantai Talanca Loji.

“Iya, sehari-hari melaut jadi nelayan, tapi kalau cuaca jelek, saya kumpulkan botol bekas dan kayu-kayu,” ujarnya saat diwawancarai.

Dalam sehari, Tami bisa mengumpulkan sekitar 50 kilogram barang bekas, yang dihargai seribu rupiah per kilogram. Hasilnya, kata Tami, hampir sama dengan pendapatannya saat melaut menggunakan perahu kayu bermesin diesel.

“Kalau melaut, ikan yang saya dapat macam-macam, ada layur, selayang, dan lainnya,” imbuhnya.

Ditegaskan Tami, tinggal di pesisir Pantai Talanca Loji bukan tanpa risiko, bagaimana tidak saat musim ombak besar, air laut sering kali naik ke daratan dan menghantam area perkampungan, yang jaraknya hanya sekitar 125 meter dari bibir pantai.

“Takut memang, selain air laut, angin besar juga sering merusak rumah. Kalau anginnya kencang, atap rumah bisa terhempas,” jelas Tami.

Di Kampung Nelayan ini, kata Tami lagi terdapat sekitar 17 rumah warga yang dihuni oleh 17 kepala keluarga, dan tidak jauh terdapat Kampung Sidat, yang dinamakan demikian karena banyaknya sidat di daerah tersebut.

“Karena itu tadi berkat lokasinya yang dekat dengan muara sungai Cimandiri, banyak ikan Sidat makanya sebelah sana dinamakan kampung Sidat,” paparnya.

Sementara itu Lukman (65), warga lainnya, menambahkan bahwa dahulu, Kampung Nelayan Talanca Loji sering kali terkena banjir rob, yang membuat warga harus mengungsi sementara waktu hingga air laut surut.

Sehingga dari adanya kejadian itulah sebagian warga menyebut kampung nelayan tersebut dikenal dengan sebutan “Kampung Dayak.”

Namun, sebutan itu bukan merujuk pada suku Dayak asli, melainkan berasal dari kondisi sehari-hari warga yang harus mengungsi akibat air laut yang naik kemudian kembali lagi saat air laut sudah surut.

“Alhamdulillah, sekarang sudah dua tahun air laut tidak naik lagi. Ini berkat adanya penahan ombak yang dibangun di pinggiran pantai,” ungkapnya dengan lega.

Lukman yang sudah 23 tahun tinggal di Kampung Nelayan Talanca Loji, menjalani keseharian yang hampir sama dengan warga lainnya. Ketika cuaca tidak memungkinkan untuk melaut, ia dan keluarganya mengumpulkan sampah plastik dan kayu.

“Dalam sehari, bersama anak dan istri, kami bisa mengumpulkan sekitar 200 kilogram kayu, harapan saya, kami semua kehidupan kedepan lebih stabil dan sejahtera,” tandasnya. (Ndi)