PALABUHANRATU – Tokoh masyarakat Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi Ucok Haris Maulana Yusuf mengaku prihatin dengan adanya informasi pelaporan terhadap oknum ketua panitia syukuran hari nelayan diduga melakukan rudapaksa terhadap salahnsatu finalis putri nelayan.
Menurut mantan wakil bupati ini, jika benar peristiwa rudak paksa tersebut terjadi hal itu sudah mencederai kebudayaan syukuran hari nelayan yang setiap tahun diselenggarakan.
“Yang pasti itu sudah mencederai kebudayaan kita, itu yang paling saya sebenernya sampai sakit hari dengan kejadian ini,” ujar Ucok Haris Maulana Yusuf. Selasa, (16/7).
“Saya secara pribadi istri saya putri nelayan tahun 2000 dengan kejadian ini sangat pilu perasaan, apalagi ini ada di ibukota kabupaten yang susah saya pindahkan dulu, yang kita tidak punya ibu kota kabupaten kita pindah ke Palabuhanratu,” sambungnya.
Sehingga, kata Ucok Haris Maulana Yusuf dengan adanya kejadian seperti itu, berharap kepada polres Sukabumi, polda Jabat, maupun mabes polri harus bertindak tegas tanpa kompromi.
“Mungkin bisa saja ada kejadian kejadian sebelum ini, dan ini harus di periksa terus, di telusuri terus, bukan kasus ini saja, kami akan mendorong polri. Posisinya juga harusnya pecat dari ketua PK KNPI dan HNSI harusnya di pecat,” jelasnya.
Masih kata Ucok Haris Maulana Yusuf, yang pasti kasus dugaan rudapaksa yang diduga dilakukan ketua panitia syukuran hari nelayan Palabuhabratu tersebut harus terus berlanjut dan dituntaskan, terlebih Ia sudah berkomunikasi dengan keluarga korban terutama dengan ayahnya korban akan terus mendorong pihak kepolisian.
“Saya akan dukung sepenuhnya, saya dan kawan kawan sebagian besar masyarakat kabupaten Sukabumi akan dukung, ini benar benar mencederai, merusak nama kabupaten Sukabumi adanya kejadian seperti ini, ada anak bangsa seperti ini,” terangnya.
Ucok Haris Maulana Yusuf berharap kedepan dalam perayaan syukuran hari nelayan harus benar benar aktif, selektif yakni ketua panitianya harus benar benar berpengalaman, yang memiliki moral baik, bila perlu kegiatan harus terdapat keterlibatan bupati langsung, wakil bupati, ketua DPRD, hal itu agar tidak ada lagi peristiwa serupa di kemudian hari.
“Sebagai mantan kepala daerah, ada perbedaan memang perayaan syukuran hari nelayan hari ini dengan jaman dulu, sangat beda, lebih sakral dulu, banyak yang hilangkan,” paparnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang pria merupakan ayah korban berinisia AS (48) warga Lebak Banten membuat pelaporan ke unit PPA Polres Sukabumi terkait dugaan anaknya menjadi korban rudapaksa yang dilakukan oknum ketua panitia hari nelayan Palabuhanratu berinisial SRP beberapa waktu lalu.
Dari keterangan yang disampaikan korban kepada AS, bahwa anaknya saat itu menjadi salah satu finalis dalam ajang pemilihan putri nelayan dilakukan perbuatan rudapaksa di salah satu hotel di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. (Ndi)






