SUKABUMI – Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi, terus berupaya mendorong kemajuan kebudayaan untuk meningkatkan ekonomi lokal di tengah persaingan global.
“Budaya yang tumbuh di Kota Sukabumi merupakan refleksi hasil kreativitas masyarakat. Ini merupakan kekuatan lokal dan dapat menjadi modal sosial, namun acapkali dilupakan,” ungkap Penjabat (Pj) Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji saat membuka Pekan Kebudayaan Nasional 2023 di Rumah Budaya Sukuraga, Warudoyong, belum lama ini.
Pria yang akrab disapa Kang Tutus ini, mengajak para peserta untuk tetap melakukan upaya perawatan budaya agar tidak tergerus arus globalisasi.
“Padahal, kebudayaan merupakan aset masyarakat. Dan masyarakat sebagai pemiliknya harus memandang budaya lokal memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan,” ujarnya.
Menurutnya, kebudayaan yang berkembang di Kota Sukabumi ini tidak terlepas dari nilai religius yang mengajarkan bahwa manusia harus menyadari terhadap eksistensi tuhan, berbuat baik terhadap sesama dan memperlakukan alam sebagaimana mestinya.
“Melalui kebudayaan, manusia harus menyadari dan mengenal dirinya sendiri. Melalui sikap ini, manusia akan memahami kehadiran dirinya di alam semesta dan akan mengejawantah dalam perilaku kehidupan,” cetusnya.
Tutus menerangkan, perilaku yang harus tumbuh dalam diri manusia berbudaya adalah sikap mulia, berintegritas, pemaaf, tidak iri atas keberhasilan orang lain, saling mendukung, merawat alam, dan menghindari larangan atau pantangan. Pasalnya, membangun kebudayaan pada hakikatnya membangun peradaban.
“Kita harus menyadari, kemajuan suatu bangsa tergantung sejauh mana bangsa tersebut menjaga dan mengamalkan budayanya. Sebaliknya, ketika kebudayaan sendiri sudah tergerus oleh kebudayaan lain, ini merupakan pertanda kehancuran suatu bangsa,” timpalnya.
Ia mengingatkan, satu nilai budaya yang hilang akan berdampak pada kehidupan sosial. Gejala ini, terlihat dari minat masyarakat terhadap budaya sendiri, budaya Sunda yang mulai luntur dan cara pandang global telah menyamarkan cara pandang masyarakat dalam melihat budaya lokal.
“Hal krusial lain, kebudayaan lokal atau daerah harus diinventarisasi dengan baik. Saat ini dapat kita saksikan sendiri, orang lain justru lebih konsern terhadap budaya kita. Banyak orang asing yang mencari sesuatu yang genuine, benar-benar lokal. Mudah-mudahan, inventarisasi kebudayaan lokal dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara,” pungkasnya. (Bam)






