Di era kepemimpinan Sultan Fatah, Kasultanan Demak Bintoro ketika itu tidak ada kejadian menonjol terkait keributan etnis. Sebaliknya, yang ada adalah antara etnis satu dengan etnis lainnya bisa saling berdampingan meski ada perbedaan ideologi. Ini berbeda dengan kondisi Indonesia sekarang yang rawan terjadi gesekan atau sentiment etnis.
Demikian disampaikan Kiai Syarif Rahmat di sela memberikan tausiyah pengajian akbar dalam rangka Haul Sultan Fatah yang ke-515 di depan Masjid Agung Demak, Rabu (28/2) malam.
Menurutnya, keberadaan Sultan Fatah (Pangeran Jimbun) yang dilahirkan dari campuran etnis Jawa dan Tionghoa dan keturunan Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) menunjukkan adanya keragaman etnis dan perbedaan agama yang saling hormat menghormati.
“Ini bukti bahwa keragaman etnis ini bisa hidup dan saling berdampingan walaupun masing masing memiliki keyakinan agama yang berbeda. Apalagi, agama juga mengajarkan kedamaian. Dengan demikian, Demak dilahirkan dari suasana yang multi etnis atau Bhineka Tunggal Ika. Meski ada perbedaan tapi satu tujuan yang sama, yakni perdamaian,”kata Pengasuh Ponpes Ummul Quro dan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka), Pondok Cabe, Jakarta, tersebut.
Menurutnya, Bhineka Tunggal Ika merupakan warisan yang sebelumnya telah ditanamankan Prabu Brawijaya V dan Sultan Fatah.
“Jadi, keragaman itu bukan kemauan kita sebagai manusia. Tetapi, kemauan yang menciotakan keragaman, yaitu Allah SWT. Kita telah diajari oleh Raden Fatah bahwa betapa hidup itu begitu indah dengan kedamaian dan selalu menjaga silaturahmi,”ujar Kiai Syarif.


