SUKABUMI – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung memprediksi Januari 2022 adalah puncak musim hujan. Artinya, pada bulan ini berpotensi terjadi bencana alam hidrometeorologi.
Untuk itu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu kepada Radar Sukabumi mengimbau kepada masyarakat Sukabumi untuk meningkatkan kewaspadaannya.
“Pada Januari tahun ini, warga dihimbau agar meningkatkan kewaspadaanya dari berbagai potensi bencana hidrometeorologi,” kata Teguh Rahayu kepada Radar Sukabumi pada Senin (10/01).
Rahayu juga menjelaskan, BMKG telah melakukan pemantauan adanya anomali Suhu Muka Laut (SST) di wilayah pengamatan Nino3,4 yang menunjukan nilai untuk memenuhi prasyarat terjadinya La Nina dan sudah berlangsung selama dua dasarian terakhir. “Dampak La Nina sudah mulai dirasakan sejak bulan November 2021 dan puncaknya akan terjadi pada periode Desember 2021 hingga Januari 2022,” paparnya.
Dampak yang ditimbulkan oleh La Nina pada wilayah Jawa Barat pada umumnya, adalah merubah pola curah hujan secara volume dan temporal. Berdasarkan data empiris yang dimiliki oleh BMKG sejauh ini, La Nina dapat meningkatkan curah hujan di wilayah Jawa Barat pada umumnya antara 20 persen hingga 40 persen.
“Kondisi sifat hujan seperti demikian akan memicu peningkatan potensi kejadian bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Barat dan termasuk di Sukabumi. Sementara, untuk potensi kejadian bencana yang mungkin terjadi adalah banjir bandang, tanah longsor. Namun tidak menutup kemungkinan, terjadi juga puting beliung dan hujan es,” tandasnya.
Seluruh wilayah di Jawa Barat akan terdampak oleh kejadian La Nina dengan tingkat korelasi sebesar 0,7. Dengan demikian seluruh wilayah Jawa Barat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kejadian La Nina.
Mengenai prediksi kondisi hujan dasarian II Januari 2022, bahwa potensi jumlah hari hujan adalah 8 – sampai 10 hari, dengan peluang hujan adalah 85 persen – 95 persen. Kategori hujan menengah hingga tinggi 50 sampai 150 mm dengan sifat hujan normal hingga atas mormal.
“Kondisi demikian akan meningkatkan juga peluang kejadian bencana hidrometeorologi. Seperti banjir dan longsor di wilayah-wilayah dengan topografi yang mendukung untuk terjadinya bencana-bencana tersebut,” bebernya.






