ARTIKELCatatan Hazairin Sitepu

‘Mukjizat’ di KM 183

×

‘Mukjizat’ di KM 183

Sebarkan artikel ini
Hazairin Sitepu
Hazairin Sitepu

Oleh : Hazairin Sitepu

PERISTIWA mengerikan itu terjadi ketika saya berada di jarak kira 300 meter dari TKP (tempat kejadian perkara). Beberapa detik berikutnya mata saya menangkap suasana mengerikan itu. Makin dekat makin mengerikan. Bulu kuduk saya berdiri. “Astagfirullah,” ucap saya berkali-kali.

Bank bjb Tandamata

Seorang perempuan berbaju merah tampak terduduk lemas di atas aspal, di antara pecahan kaca dan barang-barang yang berserakan. Satu perempuan berbaju loreng dan satu laki-laki berkaos oblong warna putih berjalan cepat dari dekat mobil yang rusak parah menuju seberang jalan, masing-masing menggendong satu anak.

Saya pun menghentikan mobil, lalu parkir di paling pinggir jalan tol itu. Dua ban sebelah kiri mobil saya menyentuh rumput. Biar tidak menghambat pergerakan mobil yang semuanya berkecepatan tinggi. Jaraknya kira-kira 20 meter dari radius kecelakaan.

Korban yang paling pertama saya dekati adalah perempuan berbaju merah itu. Ia terduduk dengan posisi miring. Mukanya pucat pasi. Tanpa suara sedikit pun. Matanya agak melotot. Tetapi sikut kanannya masih kuat menopang badannya.

Saya, bersama seorang lelaki, memindahkan perempuan muda itu dari atas badan jalan ke area berumput di antara dua arah jalan tol. Ia menderita luka serius di kedua kakinya. Sebelah kiri, tampak berdarah mulai dari dekat pangkal paha sampai bawah lutut. Kaki kirinya sulit bisa digerakkan. Tampak ada pula luka di bagian lutut kirinya. Celana coklat muda yang ia kenakan memang robek parah.

Lalu ada seorang lelaki bertubuh gempal telentang di atas rumput di belakang mobil yang celaka itu. Jaraknya kira-kira 12 meter dari tempat perempuan muda. Mengenakan kaos warna bu-abu, bercelana hitam. Celananya melorot, bajunya ketarik, sebagian perutnya kelihatan. Ia tampak meringis kesakitan. Mukanya pucat, penuh keringat.

Pergilah saya ke mobil naas itu. Dan, di dalamnya ternyata ada seorang perempuan, kira-kira berusia di atas 60 tahun, yang terbaring dengan sebagian kepala dan muka penuh darah. Terdiam. Lalu bagian depan mobil ada seorang lelaki, juga berusia kira-kira di atas 60 tahun, tampak terdiam pula. “Itu anak saya,” tiba-tiba dia berkata.

Kecelakaan di Tol Cipali KM 183 arah Cirebon menuju Jakarta. Kesibukan berikutnya adalah menelepon ambulance dan polisi. Saya menelepon ke 119. “…Tekan satu jika setuju… tekan dua untuk melanjutkan,” begitu suara di seberang sana. Lalu suara berikutnya “Informasi kedaruratan medis tekan nol. Layanan konsultasi kejiwaan, tekan delapan. Informasi corona dan vaksin, tekan sembilan..”

Sambil menunggu ambulance datang, kami (ada enam atau tujuh orang) memindahkan para korban ke mobil perempuan berbaju loreng tadi. Dua anak perempuan – mengalami luka dan lecet di beberapa bagian tubuhnya– sudah lebih dulu aman di mobil itu. Mobil Innova R 8874 DS. Kecuali ibu dan bapak tua itu, masih tetap di mobil yang naas.

Kemacetan pun serta-merta. Entah berapa kilometer panjangnya. Kami memeng menyetop mobil-mobil untuk tidak melintas dulu terutama ketika sedang mengangkat korban menyeberang jalan tol yang ramai dan lurus itu.

Ambulance pun datang, dua sekaligus. Satu dari arah Jakarta. Satu lagi dari arah Cirebon.

Petugas kepolisian kemudian datang mengamankan TKP, mengatur lalu lintas dan mengumpulkan data peristiwa. Ikut pula memindahkan korban ke ambulance.

Kecelakaan yang terjadi hari Jumat pukul 14:32 itu di KM 183 dari arah Cirebon menuju Jakarta. Semua korban lalu kami masukkan ke ambulance yang besar. Juga barang-barang mereka. Lalu dilarikan entah ke rumah sakit mana.

Joshua Dharmawan menyaksikan sebagian proses kecelakaan, ketika melintas di KM 183 itu. Dia melihat mobil melayang berputar di udara. “Ini mukjizat. Istri saya sampai berteriak pas mobil melayang dengan penumpang berterbangan berserakan di udara. Batin saya bilang, ini sudah kelar semua. Itu mobil rolling entah berapa kali…,” tulis Dharmawan kepada saya yang dia kirim melalui pesan Instagram.

Posisi para korban memang terpencar. Juga barang-barang mereka. Jarak antara ibu muda dengan lelaki gempal kira-kira 12 meter. Jarak antara ibu muda dengan dua anak perempuan kecil kira-kira enam meter. Jarak antara anak-anak perempuan kecil itu dengan lelaki gempal kira-kira enam meter. Mereka terpisah, kecuali ibu dan bapak tua yang tetap berada di mobil.

Semua penumpang mobil nahas itu, alhamdulillah, selamat. Meski mereka harus dirawat secara intensif sampai sembuh. Dua anak perempuan yang masih kecil-kecil, semoga trauma mereka segera pulih.

Ibu muda dan lelaki gempal itu kemungkinan ibu dan ayah dari dua anak perempuan kecil. Sedangkan ibu dan bapak tua kemungkinan ayah/mertua dan ibu/mertua dari ibu muda dan lelaki gempal. Saya menduga mereka satu keluarga yang hendak merayakan Natal bersama entah di mana.

Dari barang-barang yang berserakan, saya mengumpulkan enam kado. Empat kado berukuran besar dan dua kado berukuran kecil. Kado berukuran besar kemungkinan milik perempuan muda, lelaki gempal, ibu dan bapak tua. Dua kado berukuran kecil kemungkinan milik dua anak perempuan kecil itu. Kado-kado itu saya susun di antara tempat tidur dalam ambulance.