BERITA UTAMAPENDIDIKAN

Kompetensi Wirausaha Diperlukan Mahasiswa

×

Kompetensi Wirausaha Diperlukan Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, RADARSUKABUMI.com – Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Plt Dirjen Diktiriset) Nizam mengungkapkan transformasi digital yang terjadi secara global telah mendorong Indonesia menjadi negara yang unggul dalam melahirkan perusahaan rintisan (startup).

Dilansir dari The Global Unicorn Club, fakta menunjukkan ternyata Indonesia unggul. Pasalnya, dari 10 Unicorn yang ada di Asia Tenggara, 5 di antaranya lahir dan besar di Indonesia.

Bank bjb Tandamata

“Dengan penguasaan teknologi dan kreativitas lokal, lahirlah Gojek dengan kearifan lokal. Aplikasi ini hanya ada di Indonesia, lahirlah ekonomi yang tumbuh sangat besar ratusan triliun rupiah dari ide tersebut. Kemudian ada Tokopedia, Traveloka, Bukalapak dan banyak lagi startup-startup yang lahir,” tutur dia dalam keterangannya, Kamis (19/8/2021).

Dengan 5 Unicorn yang dimiliki, menjadikan Indonesia berada di peringkat ke-2 di Asia. Untuk itu, Nizam optimistis Indonesia memiliki peluang yang sangat luas dan terbuka dalam mengembangkan startup.

Nizam juga mengapresiasi Universitas Kristen Petra Surabaya dalam mendorong lahirnya startup muda yang lahir dari Universitas Kristen Petra. “Socialpreneurship, Ecopreneurship itu adalah lahan yang belum banyak dimasuki dan masih sangat terbuka bagi adik-adik sekalian,” kata Nizam.

Menurut Nizam, kewirausahaan merupakan bidang yang sangat penting karena mahasiswa saat ini banyak yang ingin memiliki perusahaan sendiri dan menjalankan bisnis sendiri. Di sisi lain, meski jumlah startup di Indonesia tinggi, namun Index Global Entrepreneurship (GEI) masih rendah.

Untuk itu, Nizam mendorong agar mahasiswa harus disiapkan dari awal dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi wirausahawan. Saat ini, Kemendikbudristek pun tengah mendorong akselerasi kewirausahaan mahasiswa melalui Kampus Merdeka.

“Dengan program Kampus Merdeka, mahasiswa dapat menginisiasi startup didukung dengan program-program sehingga mahasiswa memiliki kemampuan wirausaha yang baik dengan dimentori oleh para wirausaha yang berpengalaman dan berhasil, ditemukan dengan modal ventura, pendampingan dan sebagainya,” terang Nizam.

Apalagi, prediksi McKinsey, 23 juta pekerjaan akan hilang di Indonesia yang digantikan oleh otomasi, sistem cerdas, Internet of Things, dan sebagainya. Namun, peluang pekerjaan baru dua kali lipat dari yang hilang bahkan 10 juta di antaranya belum pernah ada.

Dengan itu, ia berharap para mahasiswa dapat menjadi bagian dari pencipta lapangan pekerjaan masa depan tersebut. Sekaligus ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan para mahasiswa untuk menjadi sarjana yang bisa bekerja di dunia yang hari ini belum ada.

“Kita harus punya lulusan yang lebih adaptif, lebih fleksibel, lebih kreatif untuk bisa menjadi complex problem solver di masa depan karena permasalahan yang dihadapi di masa depan akan semakin kompleks. Untuk itu, kolaborasi lintas keilmuan sangat diperlukan, semangat entrepreneurship sangat dibutuhkan, dan aktivitas-aktivitas multidisipliner sangat perlu sekali kita kerjakan,” pungkasnya.(sai)