Selaksa Cinta Untuk Ananda

  • Whatsapp

Oleh :

Isnaniah S.Pd
(Kabid Kajian Perempuan Anak dan Keluarga BPKK DPD PKS Kabupaten Sukabumi)

 

Suara tangisnya terdengar memecah seisi ruangan. Disusul kemudian suara tahmid sebagai ungkapan syukur tak terhingga atas kelahirannya.

Lirih adzan dan iqomah mengalun syahdu di sisi telinga kanan dan kirinya. Penanda ia adalah hamba Allah yang kelak disiapkan untuk menjadi hambaNya yang taat.

Hampir di setiap kelahiran seorang anak manusia, sujud dan syukur selalu bersusul-susulan. Ungkapan terima kasih tak terhingga pada Dzat yang telah mengamanahkan anugerah terindah bernama seorang anak.

Hadirnya menyejukkan mata, menentramkan jiwa, dan memberikan teduh di kalbu. Hadirnya selalu merupakan penantian berhiaskan kesabaran untuk setiap pasangan.

Ada yang Allah mudahkan menanti kelahirannya. Ada yang kemudian Allah uji dengan masa penantian yang tak sebentar. Semuanya berujung sama, mengharapkan anugerah terindah, anak.

Setelah kelahirannya, lalu apa yang kerap kita perbuat?

Alhamdulillah banyak pasangan orang tua yang memiliki stok kasih sayang melimpah untuk semua anaknya. Bahkan, setiap kelahiran anak, mereka mendapat jatah cinta yang tak berkurang. Bertambah anak, maka berlipat cintanya. Karena matematika cinta ayah bunda bukan untuk dibagi, namun untuk dikali.

Sehingga setiap anak seharusnya memiliki jatah cinta yang berlimpah. Malah setiap waktunya harusnya menjadi semakin bertambah.

Kadang, saat anak-anak kita masih bayi, rasanya sangat kecil jatah marah untuk mereka. Bahkan nyaris tidak ada. Kalau bukan karena kondisi bunda yang dilanda lelah, sepertinya tak ada kosa kata marah dalam literasiĀ  cintanya.

Namun, beranjak besar, kadang sedikit demi sedikit tingkah polah mereka menyumbang kontribusi hadirnya kata marah dalam kamus pengasuhan.

Bahkan, sering marah itu hadir karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Ayah bunda mengharapkan anaknya bisa cepat baca tulis, namun kenyataannya mereka lebih cepat mahirĀ  bermain bola ketimbang mengenal aksara. Marah.

Ayah bunda mengharapkan anaknya menjaga kerapian di rumah, namun kenyataannya semangat eksplorasi mereka sedang pesat-pesatnya hingga rumah harus berkali-kali dibenahi. Marah.

Ayah bunda megharapkan anaknya pandai berhitung, namun kenyataannya mereka lebih mahir untuk menggambar. Marah.

Ayah bunda mengharapkan anaknya secemerlang anak tetangga, namun kenyataannya mereka memiliki ruang bersinar nya sendiri. Masihkah kita akan marah?

Sungguh, anak-anak kita hadir sebagai amanah dari Sang Maha Cinta. Terlahir atas nama cinta, kehadirannya disambut dengan sepenuh cinta. Maka biarkan mereka tumbuh dan berkembang dengan selaksa cinta ayah bundanya, bukan merekah resah akibat tumpahan marah.

Ada banyak cinta untuk semua ananda. Selamat Hari Anak Nasional. (*)

#Cinta PKS, Wujudkan Keluarga Tangguh Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *