Meskipun puasa bukan bagian dari budaya Jepang, Lesmana merasakan adanya pemahaman yang semakin baik dari masyarakat setempat, termasuk di tempat kerjanya. “Di perusahaan saya, orang-orang Jepang mulai memahami konsep puasa dalam Islam, yang dalam bahasa Jepang disebut ‘Danjiki’. Mereka memahami bahwa bagi Muslim, puasa adalah kewajiban, sehingga mereka memberi sedikit kelonggaran dalam pekerjaan agar tidak terlalu berat,” jelasnya.
Kesadaran ini, menurutnya, merupakan sebuah kemajuan dalam pemahaman lintas budaya. “Saya senang bisa sedikit berbagi informasi dengan mereka tentang ibadah puasa dan Islam. Ini menjadi pengalaman berharga, bagaimana kita bisa tetap menjalankan kewajiban agama sekaligus memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada orang-orang di sekitar kita,” katanya.
Ketika ditanya tentang pengalaman paling berkesan selama menjalani puasa di Jepang, Lesmana menyebut bahwa Ramadhan di negeri orang justru memperkuat keimanannya. “Menjalani puasa di negara yang mayoritas bukan Muslim memberi tantangan tersendiri, tetapi juga memberikan pelajaran berharga. Kita bisa lebih memperteguh keimanan dan merasakan bagaimana menjadi Muslim di lingkungan yang berbeda,” katanya.
Selain itu, ia merasa bangga bisa sedikit memberikan literasi kepada masyarakat Jepang tentang Islam dan puasa. “Mereka cukup penasaran dan banyak bertanya tentang bagaimana kami berpuasa, kenapa tidak makan dan minum sepanjang hari. Dari situ, saya merasa ada kesempatan untuk menjelaskan tentang ajaran Islam dengan cara yang baik,” imbuhnya.
Bagi Lesmana, menjalani puasa di Jepang bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang bagaimana tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman di tengah perbedaan budaya. Dengan dukungan komunitas Muslim, kemudahan mendapatkan makanan halal, serta toleransi dari lingkungan sekitar, Ramadhan di Jepang menjadi pengalaman spiritual yang semakin memperkaya perjalanan hidupnya.
“Dimanapun kita berada, puasa tetaplah puasa. Tantangannya mungkin berbeda, tapi esensi dan keutamaannya tetap sama,” pungkasnya. (*)




